ADVERTORIAL

Tidur Beralas Bumi Beratap Langit, Kisah Keluarga di Tanjung morawa ini Bikin Hati Pilu

Gunawan dan anaknya berfoto di gubuk tempat mereka tinggal.

Deliserdang, akses.co – Ditengah gencar-gencarnya pemerintah pusat menurunkan anggaran ke desa, ternyata masih ada juga warga yang tinggal digubuk lapuk, tidur beralas bumi dan beratap langit.

Yah, Gunawan namanya. Umurnya sudah 40, ia hidup bersama dengan empat orang anaknya. Mereka tinggal di rumah yang jauh dari kata layak, di Dusun II Desa Bandar Labuhan Kec. Tanjung Morawa, Deli Serdang.

Kekuatan rumahnya hanya tinggal di tancapan kayu yang dilapisi triplek bekas, seng lapuk berkarat dan tepas-tepas bekas sebagai upaya untuk hangatkan penghuni ia dan empat orang anaknya.

Saat diwawancarai akses.co, Sabtu (17/10), di rumah yang tak berkamar mandi itu, Gunawan tampak sedih dan sesekali gak mampu membendung air matanya.

Gunawan bercerita bahwa sudah sejak puluhan tahun mereka sekeluarga merasakan penderitaan hidup tinggal di gubuk. Jika hujan berteduh ke rumah tetangga, jika mandi numpang ke rumah warga. Namun jika malam ingin buang air, terpaksa ia harus temani anaknya ke sungai yang letaknya tak jauh dari gubuk itu.

Rumah Gunawan dan anaknya tampak dari belakang.

Rumah Gunawan dan anaknya tampak dari belakang.

Ditengah kondisi terberat saat ini, Gunawan harus juga menikhlaskan kepergian istri dan anaknya yang baru saja meninggal. Pendaharan yang cukup parah membuat istri dan anak yang dikandung meninggal dunia.

Kata Gunawan, pedih sekali rasanya, mau berobat tidak ada biaya, biaya persalinan pun tak ada biaya. Pendarahan hebat terjadi ditengah ketidakmampuan, kepasrahan dan ikhlas atas musibah yang sangat memukulkan itu.

Jadilah ia seorang diri, membesarkan, merawat dan mendidik anak-anaknya.

“Gimana saya mau perbaiki rumah, mau buat kamar mandi, untuk makan sehari-hari pun kekurangan. Belum lagi biaya anak sekolah, sementara saya hanya buruh kasar yang hidup di rantau sebagai pembersih ladang sawit milik orang,” kata Gunawan pilu.

Terpisah, Bambang Shaidi, abang ipar yang rumahnya berdekatan dengannya mengatakan, dengan hanya bekerja sebagai penarik becak, ia tak banyak bisa membantu.

Sama seperti Gunawan, menurut Bambang keluarganya bisa makan saja pun sudah bersyukur.

“Jujur, selaku abang ipar saya merasa prihatin dengan kondisi beliau. Semoga terbukalah pintu hati para aparat pemerintah kita ini, khususnya Deli Serdang dan dapat bisa membantu untuk kehidupan yang lebih layak untuk adek saya,” ucapnya dengan penuh harap. (Manahan. D)

Comments
To Top