Beranda POLITIK Soekirman dan Zero Conflict Leader

Soekirman dan Zero Conflict Leader

BERBAGI
Suasana Talkshow Zero Conflict Leader di Kampus UINSU, Jumat.
Suasana Talkshow Zero Conflict Leader di Kampus UINSU, Jumat.

MEDAN, akses.co – Bupati Serdangbedagai, Ir H Soekirman tampil sebagai pembicara dalam talkshow Zero Conflict Leader yang digelar bersama Patron Institute, Sergei Youth Forum dan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Jumat (22/2/2019).

Dalam talkshow itu terungkap, sosok Soekirman, adalah salah satu kepala daerah di Indonesia yang mampu memimpin dengan zero conflict atau mampu mengelola konflik. “Saya kira kegiatan ini, sudah tepat menjadikan Soekirman sebagai Zero Conflict Leader. Karena memang seperti itu kenyataannya selama beliau di Serdangbedagai,” kata Wakil Dekan I FDK, Dr Efi Brata Madya.

Menurut Efi, dirinya sudah mengenal Soekirman sejak 1989. Saat itu pula, sampai hari ini, menurutnya, Soekirman adalah orang yang tidak pernah berhenti membangun dan memberdayakan masyarakat marjinal atau masyarakat miskin lewat lembagai yang dimilikinya. “Saya termasuk orang yang angkat topi untuk konsistensi Pak Soekirman ini,” katanya.

Setelah ini kata Efi, nanti perlu diviralkan bahwa Soekirman adalah leader yang mampu mengelola konflik. “Kalau perlu jadi pilot project bagi daerah lain di Indonesia dan menjadi masukan untuk semua yang ingin menjadi leader,” katanya dalam dialog yang dipandu Dosen UINSU, Indira Fatra Deni, MA ini.

Turut hadir sebagai pembicara pengamat politik UINSU, Faisal Riza, MA. Dalam pandangannya, Soekirman memang cukup berhasil meredam dan mengelola konflik dalam karirnya sebagai politisi atau pejabat daerah. Soekirman menjabat dua periode sebagai Wakil Bupati Serdangbedagai dan berhasil menjadi Bupati Serdangbedagai. “Saya kira hanya Pak Soekirman yang bisa menjadi bupati setelah menjadi wakil bupati di Sumatera Utara. Boleh di cek,” katanya.

Faisal memaparkan model konflik Thomas Kilmann mengidentifikasi lima mode perilaku konflik yang umum pada kepemimpinan yakni menghindari, mengakomodir, berkompromi, berkolaborasi, dan bersaing.

“Tidak ada satu cara benar atau terbaik untuk menyelesaikan konflik. Tetapi ketika kita mengetahui proses kita sendiri, kita dapat lebih mengevaluasi perilaku kita untuk efektivitas, serta mencoba strategi baru yang mungkin keluar dari zona nyaman kita tetapi lebih cocok untuk situasi tertentu. Saya kira Pak Soekirman ada dalam posisi mampu mengevaluasi perilakunya sendiri saat sebagai wakil bupati maupun bupati. Ini juga tidak terlepas dari pengalaman sebelum terjun ke politik,” pungkas Riza.

Sementara Soekirman sendiri mengaku dirinya tidak begitu menyadari ada pihak yang melihat dirinya selama menjadi pejabat daerah di Serdangbedagai. “Saya terimakasih juga sudah disebut sebagai zero conflict leader,” kata pria yang juga Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Sumatera Utara ini.

Saat menjadi Wakil Bupati Serdangbedagai, Soekirman mengakui dirinya memang cukup memahami posisinya sebagai wakil. “Artinya saya bertanggungjawab ke bupati. Jadi apapun yang dikerjakan, harus seizin dan sepengetahuan bupati. Selain itu, saat awal menjabat wakil bupati pada 2005, ada yang memberitahu saya sebagai wakil itu kalau pintar jangan menggurui, tajam jangan melukai, cepat jangan mendahului. Itu saya lakukan, meski mengaplikasinya tidak mudah,” tegas Soekirman.

Direktur Eksekutif Patron Institute, Fajar Siddik, menambahkan, pihaknya menyematkan gelar “Zero Conflict Leader” pada Soekirman dengan berbagai kajian yang dilakukan sebelumnya. “Pak Soekirman ini, adalah satu dari sedikit orang yang menjadi tokoh politik, kepala daerah, dengan modal sosial yang baik, bukan finansial. Dia sudah berbuat untuk masyarakat sejak 1985 dalam usia 25 tahun,” pungkasnya.(rih)

Comments

Komentar