Beranda POLITIK Gandeng Akademisi UINSU, Rumah Berdikari Gelar Diskusi Santri

Gandeng Akademisi UINSU, Rumah Berdikari Gelar Diskusi Santri

BERBAGI
Akademisi UINSU yang juga Sekretaris MUI Sumut, Dr Ardiansyah, berfoto bersama usai diskusi dengan santri yang digelar Rumah Berdikari. (ist)
Akademisi UINSU yang juga Sekretaris MUI Sumut, Dr Ardiansyah, berfoto bersama usai diskusi dengan santri yang digelar Rumah Berdikari. (ist)

akses.co – Rumah Berdikari bekerjasama dengan Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah TPI mengadakan Diskusi Publik bertemakan “Revitalisai Peran Pondok Pesantren Dalam Menangkal Paham Gerakan Radikal” di Aula Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Medan.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid turut menyampaikan presentasi. Selain itu ada dua narasumber yang turut memaparkan materinya di hadapan ratusan santri yang hadir di acara tersebut. Yakni, Ardiansyah, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Daerah Sumatera Utara; Amar Adly, dosen pascasarjana Unvrsitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara.

Dalam siaran pers yang diterima Kamis (16/11/2017), Kepala Rumah Tangga Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah, Eli Juliati, menyampaikan bahwa pentingnya pemahaman mengenai menangkal paham gerakan radikal kepada para santri. “Saya sangat mengapresiasi diadakan kegitatan ini dari Rumah Berdikari dan Ibu Meutya Hafid sebagai penggagas acara ini,” ujar Eli.

Meutya Hafid turut membenarkan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Indonesia yang tertua di Indonesia. “Tidak hanya menjadi pusat pembelajaran bagi para santri, pesantren juga menjadi wadah untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran islam yang menekankan kepada pentingnya penerapan moral dan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”, katanya.

Dalam pandangan wakil ketua komisi DPR RI ini, karakter otentik pesantren sejak dahulu dikenal sebagai lembaga yang mengedepankan toleransi dan rasa cinta damai sebagai ajaran islam. “Tidak perlu diragukan lagi dalam perjalanannya, telah memiliki andil yang besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia,” tambahnya.

Sekretaris MUI Sumut, Ardiansyah juga turut membenarkan bahwa Sumatera Utara tidak mengenal radikalisme dan terorisme. Dapat dipastikan sampai hari ini, belum ada dan mudah- mudahan tidak ada yang terlibat dari santri pondok pesantren yang berasal dari Sumatera Utara. “Saya yakin pembahasan mengenai menangkal radikalisme ini, tidak menarik bagi mereka, karena mereka tidak merasa melakukan atau terlibat dengan paham tersebut,” pungkasnya.

Amar Adly menegaskan, Islam bukanlah teroris. “Islam terlibat hanya dua persen saja, selebihnya bukan islam yang melakukan. Jika memang ada islam yang melakukan, itu adalah ajaran-ajaran yang dianggap sebagai pemahaman yang salah terhadap Islam,” ujar Amar seraya mengingatkan kepada para santri yang mengikuti acara diskusi. “Acara ini diadakan untuk menginformasikan kepada kita semua bahwa kita bukan teroris dan yakin jangan sampai terjebak yang namanya teroris, tandasnya.

Diskusi yang diikuti ratusan peserta ini, termasuk para pimpinan, pengajar dan santri berjalan dengan lancar dan hikmat. Dalam sambutannya, Eli selaku perwakilan pondok pesantren Darul Hikmah, mengucapkan terima kasih kepada Rumah Bedikari. “Kami berterima kasih kepada Rumah Berdikari dan Ibu Meutya Hafid, atas terselenggaranya acara ini,” ujar Eli.

Di samping itu, Direktur Rumah Berdikari, Mohammad Fauzi Ibrahim, menyampaikan, Rumah Berdikari adalah suatu wadah untuk anak-anak muda di Medan dalam melakukan kreatifitas, yang di bawah naungan Meutya Hafid sebagai perwakilan Dapil I Sumut yaitu Medan, Deliserdang, Serdang Berdagai dan Tebing Tinggi.

“Kita membina home industri, beberapa lembaga pendidikan, anak-anak jalanan. Untuk saat ini amanat ibu Meutya Hafid untuk membangun kekuatan ideologi kebangsaan kita yaitu pancasila, undang-undang dasar 1945 dan bhinneka tunggal ika. Seperti yang kita ketahui paham radikal sudah menjadi perbincangan serius di mana-mana, dan menjadi perhatian terutama di Provinsi Sumatera Utara,” ungkapnya.(rel/rur)

Comments

Komentar