Sistem Industry 4.0 Ciptakan Peluang Industri Baru

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara. (istimewa)
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara. (istimewa)

akses.co – Penerapan sistem Industry 4.0 dinilai yang mengintegrasikan dunia online dengan produksi industri
dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik.

Istilah Industry 4.0 ini pertama kali muncul di Jerman tahun 2011 membutuhkan transformasi keterampilan Sumber Daya Manusia (SDM) industri di Indonesia yang mengarah kepada bidang teknologi informasi.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara mengungkapkan dengan penggunaan teknologi terkini dan berbasis internet akan memunculkan permintaan jenis pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti pengelola dan analis data digital, serta profesi yang dapat mengoperasikan teknologi robot untuk proses produksi di industri.

“Bahkan, ada beberapa potensi keuntungan yang dihasilkan sebagai dampak penerapan konsep Industry 4.0,” ungkapnya mewakili Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat kuliah umum mahasiswa dan dosen Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Melalui siaran pers yang diterima akses.co, Jumat (23/02/2018) Ngakan Timur Antara mengungkapkan keuntungan yang dihasilkan sebagai dampak penerapan konsep Industry 4.0 antara lain mampu menciptakan efisiensi yang tinggi, mengurangi waktu dan biaya produksi, meminimalkan kesalahan kerja, peningkatan akurasi dan kualitas produk.

Agar menjamin keberlangsungan sistem Industry 4.0 berjalan secara optimal, Ngakan menyebutkan, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi oleh industri.

Kebutuhan penunjang itu di antaranya adalah ketersediaan sumber daya listrik yang melimpah, murah, berkelanjutan dan ketersediaan infrastruktur jaringan internet dengan bandwidth yang cukup besar dan jangkauan luas.

Selanjutnya, ketersediaan data center dengan kapasitas penyimpanan yang cukup banyak, aman dan terjangkau, ketersediaan infrastruktur logistik modern dan kebijakan ketenagakerjaan yang mendukung kebutuhan industri sesuai dengan karakter Industry 4.0.

“Tahun 2018 ini kami akan melakukan sosialisasi besar-besaran untuk industry 4.0,” paparnya.

Kemenperin pun telah membuat program pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and matchantara industri dan SMK.

“Kami juga punya beberapa balai diklat yang bisa dipakai oleh industri untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerjanya,” pungkas Ngakan.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan implementasi Industry 4.0 mampu meningkatkan produktivitas, penyerapan tenaga kerja dan perluasan pasar bagi industri nasional. Namun, peluang yang ditimbulkan era tersebut perlu membutuhkan keselarasan antara perkembangan teknologi terkini dengan kompetensi SDM yang tinggi.

“Revolusi Industry 4.0 merupakan upaya transfomasi menuju perbaikan dengan mengintegrasikan dunia online dan lini produksi di industri, di mana semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama,” paparnya.

Oleh karena itu, ada tiga hal yang mutlak dipelajari dan dikuasai oleh SDM industri Indonesia agar dapat bersaing di era Industry 4.0 diantaranya Bahasa Inggris, statistik dan coding.

“Ini bisa dipelajari dalam enam bulan. Kami yakin, Indonesia siap menjadi solusi dalam Industry 4.0 dan digital ekonomi,” tegasnya.

Menurut Menperin, era revolusi industri keempat tidak bisa lagi dihindari karena saat ini sudah berjalan. Untuk itu, pihaknya membuat roadmap Industry 4.0 dan terus melakukan sosialisasi kepada seluruh stakeholders agar siap menghadapi dan memanfaatkan kesempatan tersebut.

“Kami juga sedang mempelajari dari negara-negara lain yang telah menerapkannya, sehingga bisa kita kembangkan Industry 4.0 dengan kebijakan berbasis kepentingan industri dalam negeri,” pungkasnya. (din)

Artikel Terkait