Sering Berkeluh Pipa Pecah, LAPK Minta Tirtanadi Introspeksi

Sekretaris LAPK, Padian Adi Syahputra
Sekretaris LAPK, Padian Adi Syahputra

akses.co – Pelanggan yang mengeluhkan kualitas air yang kotor dan mati berhari-hari akibat kebocoran pipa yang pecah, hendaknya harus direspon dengan cepat PDAM Tirtanadi untuk memperbaiki dan mencarikan solusi agar berfungsi normal seperti biasa.

“Tentu, kebocoran pipa yang terjadi sangat merugikan pelanggan, karena sangat disayangkan dalam kondisi normal saja pelayanan PDAM Tirtanadi masih buruk, sehingga hujatan pelanggan bertubi-tubi di media sosial, apalagi dalam rentang sebulan terjadi 2 kali pipa pecah tentu akan membuat pelanggan semakin menderita,” kata Sekretaris Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK), Padian Adi Syahputra, Senin (23/10/2017).

Diketahui, sampai hari ini pelanggan PDAM Tirtanadi masih mengalami matinya aliran air ke rumah. Saluran pipa yang pecah harusnya diperbaiki sesegera mungkin, bukan malah menjadi alasan berkeluh kesah kepada pelanggan untuk menutupi kegagalan PDAM Tirtanadi memenuhi standar pelayanan selama ini, termasuk respon mengatasi masalah gangguan distribusi air.

“Idealnya dengan kondisi pipa distribusi yang sudah tua dan kropos warisan peninggalan Belanda, secara bertahap harus diganti sehingga PDAM Tirtanadi tidak berkutat menunggu pipa yang ada kapan pecah,” kata Padian.

Selain itu, PDAM Tirtanadi harus menyediakan cadangan pipa yang dapat digunakan sewaktu-waktu jika terjadi kebocoran dan pecah pipa, tanpa harus menunggu pemesanan kepada produsen. Pelanggan tidak boleh dibiarkan menerima alasan PDAM Tirtanadi untuk bersabar dengan kualitas pelayanan yang tidak maksimal sepanjang menunggu pesanan pipa pengganti yang pecah datang.

“Tentu PDAM harus mencarikan solusi agar distribusi air kepada pelanggan tetap berjalan, apakah menurunkan mobil tangki air di kawasan tertentu atau memberikan suplai air dari IPA yang ada,” bebernya.

Padian menambahkan, sesungguhnya PDAM Tirtanadi sedang membuka borok sendiri ketika beralasan pipa yang pecah harus menunggu ditempah, karena penyertaan modal yang selama ini diberikan Pemprovsu kemana bocornya karena kualitas infrastruktur pipa saluran air bukan malah membaik malah secara bergiliran mengalami kebocoran dan pecah.

“Petinggi PDAM tidak menjadikan pelanggan sebagai aset dan acuan dalam menjalankan pelayanan, tetapi terkesan indikator pelayanan itu adalah Gubsu. Ketika Gubsu tidak melakukan evaluasi kepada PDAM Tirtanadi maka bagi Petinggi PDAM tidak ada masalah, walaupun kualitas air keruh dan aliran air mati,” pungkasnya. (rur)

Artikel Terkait