ADVERTORIALFEATUREDSUMUTVIRAL

Selamatkan Danau Toba Dari Wisata Halal

Penulis sedang menikmati keindahan alam Danau Toba
Penulis sedang menikmati keindahan alam Danau Toba

Oleh: Ronggur Raja Doli Simorangkir

Tak terhitung sudah berapa jumlah Menteri yang datang ke Danau Toba, Sumatera Utara. Tidak terhitung pula sudah berapa kali Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. H. Joko Widodo datang menyambangi Danau Toba. Dan ada berapa Triliun dana pemerintah yang akan digelontorkan untuk pengembangan kawasan Danau Toba?

Sebagai orang Batak Toba, penulis sebenarnya menaruh harapan besar terhadap pengembangan kawasan wisata Danau Toba. Terlebih saat Pak Jokowi akan memfokuskan pengembangan wisata halal diberbagai objek pariwisata.

Hal ini harusnya dianggap sebagai peluang bagi orang Batak, tatkala Indonesia dinobatkan sebagai nomor satu di bidang wisata halal, secara bersamaan pemerintah telah berencana menggelontorkan Triliunan rupiah untuk pengembangan kawasan Danau Toba.

Perkembangan industri wisata yang menawarkan konsep halal belakangan ini sudah menjadi tren di belahan dunia, dan Danau Toba harus ikut menjadi perhatian dunia dalam perkembangan tren tersebut. Dari data yang disampaikan Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018, total pengeluaran para wisatawan muslim secara global diperkirakan akan mencapai 220 milliar dolar AS pada 2020 mendatang. Bahkan jumlahnya akan terus meningkat hingga 300 milliar dolar AS pada 2026. Lalu pertanyaannya, Danau Toba yang jadi ikonnya pariwisata di Sumatera Utara sudah dapat apa dari tren wisata tersebut?

masyarakat kita kadung hobi gaduh dan berdebat soal polemik wisata halal tersebut. Isu dari provokasi yang muncul dipermukaan malah terkesan jahat dan semakin menutupi pesona Danau Toba dari keramahan budaya dan sosial.

Konsep wisata halal di Kawasan Danau Toba sebenarnya tidak perlu dikuatirkan berlebih serta di dramatisir begitu jauh seolah ada nilai-nilai adat dan budaya yang dilanggar dari penerapan konsep tersebut. Secara global, kosep dari wisata halal itu sendiri sebenarnya hanya mengatur soal adanya jaminan ketersediaan makanan halal, ketersediaan ruang ibadah, dan berbagai penyediaan produk jasa wisata seperti hotel atau resort halal. Mau dikaji sampai sejauh mana pun, konsep wisata halal itu tidak sampai mencampuri urusan budaya, adat istiadat dan kehidupan sehari hari masyarakat lokal.

Konsep wisata halal itu tidak sampai mengatur orang non muslim untuk makan apa yang diharamkan oleh orang muslim dan bahkan sampai harus ikut campur melarang perbutan apa yang diharamkan dalam ajaran Islam. Sebab secara harafiah, halal pada dasarnya berbicara tentang pembelaan terhadap individu dari umat Islam itu sendiri dan bukan sekedar merujuk pada apa yang boleh dan apa yang dilarang dalam agama.

Maka dari itu, penerapan dari wisata halal itu sendiri berdiri tunggal demi melindungi hak wisatawan muslim dalam Islam. Penerapannya bukan dalam rangka merusak nilai nilai budaya adat istiadat lokal dan bukan merusak tatanan kehidupan masyarakat yang sudah berjalan ribuan tahun lamanya.

Jika konsep wisata halal di Danau Toba terus dipertentangkan, maka kemana Danau Toba itu harus berkiblat, agar kawasan Danau Toba ini berhasil mendunia seperti apa yang kita cita-citakan bersama. Beberapa negara di Asia seperti Singapura, Jepang, Hong Kong, Taiwan dan Korea Selatan kini telah berlomba lomba dalam mengembangkan konsep wisata halal demi meningkatkan jumlah wisatawan ke destinasi pariwisata mereka. Korea Selatan misalnya, meskipun memiliki warga muslim yang hanya 0,2% dari total jumlah penduduknya, namun jumlah wisatawan muslim dari berbagai manca negara terus meningkat dari tahun ke tahun.

Bahkan menurut data dari Korea Tourism Organization (KTO), jumlah kunjungan wisatawan muslim di tahun 2017 tembus mencapai 990.000 wisatawan muslim yang datang dari berbagai negara seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Arab dan negara Timur Tengah lainnya.

Lah kita, sebagai entitas suku kecil dari ribuan suku kecil di dunia yang mendapatkan berkah atas warisan tuhan dengan wujud keindahan Danau Toba malah begitu eklsusif seolah menolak nilai dan budaya di luar budaya Toba.

Jika peluang ini ditangkap dengan baik oleh masyarakat yang “hidup” dikawasan Danau Toba, maka perkembangan kawasan Danau Toba dengan sendirinya akan berkembang pesat, berbagai investasi yang bergerak dalam bidang pariwisata akan tumbuh subur di kawasan Danau Toba. Lazimnya daerah pariwisata yang maju, hal itu pasti akan berimbas pada peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.

Namun apalah daya kawan. Saudara kita yang tidak tinggal di kawasan Danau Toba, yang tidak hidup dari belas kasih Danau Toba, dan tidak menyekolahkan anak anaknya dari Danau Toba kadung marah seakan tak memberi ampun. Orasi dan teriakan mereka kadung berkumandang dipuncak pusuk buhit sianjur mula-mula, seolah mereka tau dan cinta dengan Danau Toba.

Penulis adalah orang Batak yang berkampung di Labuhole, Siatas Barita, Tapanuli Utara
Alumni S2 Ilmu Sejarah USU

09

You may also like

Comments are closed.