Beranda POLITIK Stunting, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan Kartu-kartu Jiplak ala Djoss

Stunting, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan Kartu-kartu Jiplak ala Djoss

BERBAGI
Suasana debat kedua Pilgubsu 2018 di Hotel Adimulia, Medan. (ist)
Suasana debat kedua Pilgubsu 2018 di Hotel Adimulia, Medan. (ist)

akses.co – Debat publik kedua Pilgubsu 2018, dimanfaatkan Pasangan Djarot Syaiful Hidayat – Sihar Sitorus (DJOSS) memamerkan beberapa kartu yang dianggap sebagai solusi pembangunan di Sumut. Pasangan ini juga menggunakan istilah-istilah tidak familiar di telinga publik, dalam paparannya.

Djarot yang menyampaikan visi dan misi pasangannya mengatakan akan memulai pembangunan yang berkeadilan dari masyarakat pinggir. Sebab mereka merupakan orang-orang yang kurang beruntung. Untuk itu DJOSS akan mengeluarkan ‘Kartu” sebagai solusi.

“Djoss ke depan akan melakukan pembangunan yang dimulai dari rakyat kecil yang kurang beruntung. yang dilakukan Djoss untuk masyarakat yang kurang beruntung adalah dengan menerbitkan Kartu Sumut Sejahtera, Kartu Sumut Pintar dan Kartu Sumut Sehat,” kata Djarot acara debat.

Dia menjelaskan, dengan adanya “Kartu Sumut” ini nantinya tidak ada lagi masyarakat yang kelaparan. Selain itu masyarakat Sumut juga tidak perlu khawatir apabila masyarakat sakit, pasangannya nanti akan menerbitkan “Kartu Sumut Sehat” yang dengan kartu tersebut masyarakat akan mudah mengakses fasilitas kesehatan.

Padahal, awam diketahui kartu-kartu ini merupakan program pemerintah pusat yang sudah ada dan beredar di masyarakat. Yakni, Kartu Indonesia Pintar untuk Kartu Sumut Pintar. Kemudian Kartu Indonesia Sehat (KIS/BPJS) untuk Kartu Sumut Sehat, dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) untuk Kartu Sumut Sejahtera.

Djarot – Sihar juga menggunakan istilah stunting untuk menjelaskan situasi kesehatan anak yakni gagal tumbuh kembang anak, karena gizi buruk. Penggunaan istilah stunting ini pun dikritik Edy Rahmayadi, rival Djarot. “Stunting itu apa? Coba pakai istilah yang jelas,” kata Edy. Lalu Djarot pun menjelaskan kalau Stunting itu adalah situasi gagal tumbuh kembang anak.

Mendengar ini Edy pun langsung menjawab. “Kalau itu yang dimaksud, kami ERAMAS (Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah) sudah menyiapkan Bidan Siaga, Perawat Siaga, di Posyandu. Nanti kita kerjasama dan komunikasi yang baik dengan pemerintah kab/kota di Sumut,” pungkasnya.

Selain Djarot, Sihar juga menggunakan istilah Indeks Kedalaman Kemiskinan. Padahal istilah mudahnya, itu adalah kesenjangan pendapatan di masyarakat. Istilah ini digunakan Sihar saat bertanya ke Musa Rajekshah. Persoalan itu pun dijawab Musa Rajekshah dengan elegan bahwa masyarakat butuh solusi dan pendampingan pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan. Hal ini pun dibenarkan Sihar. “Betul sekali apa yang dikatakan Bang Ijeck,” kata Sihar. (rih)

Comments

Komentar