Beranda POLITIK Cuma Segelintir Politisi jadikan Isu Lingkungan untuk Diperjuangkan

Cuma Segelintir Politisi jadikan Isu Lingkungan untuk Diperjuangkan

BERBAGI
Rasyid Assaf Dongoran (kanan) memberikan penjelasannya dalam diskusi Patron Institute berdampingi dengan Faisal Riza (tengah) dan Tedi Supriatna (kiri). (ist)
Rasyid Assaf Dongoran (kanan) memberikan penjelasannya dalam diskusi Patron Institute berdampingi dengan Faisal Riza (tengah) dan Tedi Supriatna (kiri). (ist)

MEDAN, akses.co – Isu perlindungan terhadap lingkungan hidup belum menjadi perhatian publik dalam Pemilu 2019. Padahal, masalah lingkungan sangat mendasar bagi peradaban suatu bangsa.

“Terpinggirkannya persoalan lingkungan hidup yang sejatinya merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia dalam momentum Pemilu 2019 sangat membahayakan nasib masa depan peradaban di Indonesia. Jika elit-elit politik kita tidak punya kepedulian tehadap hal itu, maka kita semakin dekat dengan krisis lingkungan hidup yang baik dan bersih,” kata Direktur Eksekutif Patron Institute, Fajar Siddik, dalam dialog publik bertema “Menegaskan Konsekuensi Hukum, Menuju Kampanye Politik Ramah Lingkungan”, di D’jong Cafe, Jalan Wiliiem Iskandar, Deliserdang, kemarin.

Dialog itu menghadirkan empat pembicara, yaitu Kasi Penegakan Hukum Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara Tedi Supriatna, akademisi UIN-SU Faisal Riza, Direktur Eksekutif Sumatera Rainforest Institute sekaligus Wakil Ketua Bidang Lingkungah Hidup dan SDA DPD Partai Golkar Sumut Rasyid Assaf Dongoran, dan Komisioner Bawaslu Sumut Marwan. Sayang Marwan tak hadir, dengan alasan menjalankan tugas.

Tedi Supriatna dalam pemaparannya menekankan bahwa dalam hukum lingkungan hidup, lingkungan hidup itu sendiri merupakan subjek hukum. Namun menurutnya, hal itu hanya dipahami oleh segelintir orang. “Ini menjadi salah satu faktor terbesar, mengapa masalah lingkungan hidup itu sering terabaikan. Jadi, lingkungan hidup itu punya hak dan kewajiban juga. Haknya adalah mendapatkan pelestarian dari manusia, dan kewajibannya memberi lingkungan hidup, seperti yang diuraikan dalam Pasal 67 UU Nomor 32 Tahun 2009,” ungkapnya.

Tedi berharap, baik partai politik maupun calon legislatif yang akan menjadi peserta Pemilu 2019 untuk mulai menciptakan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Apalagi, setiap peraturan, mulai dari Undang-undang hingga peraturan daerah, wajib didasari dengan prinsip menjaga lingkungan hidup.

“Kita berharap orang-orang yang berhasil menjadi legislator nantinya adalah orang-orang yang paham dan memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan. Masalah lingkungan hidup ini adalah masalah bersama, saya juga berharap dengan diadakannya acara ini kita melahirkan orang-orang yang peduli lingkungan,” tegasnya.

Berdasarkan pandangan Faisal Riza sebagai akademisi dan pengamat politik, memang sangat sedikit aktor politik di Pemilu 2019 yang menjadikan persoalan lingkungan hidup sebagai arus utama. Oleh karena itu, Faisal Riza memandang betapa pentingnya menanamkan kesadaran, baik kepada aktor politik maupun masyarakat sebagai objek kampanye untuk peduli dan paham atas isu lingkungan hidup. Agar kedepannya, lembaga legislatif dapat berkonsentrasi dan merumuskan kebijakan yang menguntungkan bagi lingkungan hidup.

“Tema ini sebenarnya juga menyadarkan saya, betapa Patron Istitute berani melawan arus mainstream untuk membicarakan tentang dampak momentum politik terhadap lingkungan. Saya berharap dari dialog kita ini, dapat menjadi hulu untuk menyadarkan caleg-caleg dan aktor politik lainnya untuk peduli terhadap pelestarian lingkungan. Setidaknya ini bisa men-trigger, jadi pemicu agar kedepan kita dapat merumuskan masa depan kita memiliki lingkungan yang baik,” paparnya.

Sementara Rasyid yang dalam Pemilu 2019 juga menjadi calon legislatif tingkat provinsi daerah pemilihan Sumut VII, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa dialog ini dapat menjadi cara untuk menyadarkan para caleg untuk melakukan kampanye yang tidak mencemari lingkungan.

“Saya coba menafsirkan tema ini, bagaimana partai politik maupun caleg-nya tersadarkan, bahwa setiap aktivitas saat berkampanye memiliki konsekuensi hukum terhadap lingkungan,” katanya.

Rasyid yang sebelumnya mendapatkan pujian dari dua pembicara lainnya karena berstatus sebagai caleg dengan kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup menegaskan, penting bagi partai politik maupun caleg untuk menjadikan persoalan lingkungan hidup sebagai arus utama.

“Bahwa ada kebutuhan pengarusutaman, karena legislator adalah seseorang yang punya tiga tugas: mengawasi, penganggaran, dan membuat regulasi. Persoalan lingkungan hidup tidak sekedar air tercemar, bagaimana caranya regulasi yang dibentuk legislator, tidak bertentangan dengan arus global (pelestarian lingkungan hidup),” ujarnya.(rih/rel)

Comments

Komentar