Beranda POLITIK Cipayung Plus Galang Tandatangan Tolak Isu SARA dan Politik Identitas

Cipayung Plus Galang Tandatangan Tolak Isu SARA dan Politik Identitas

BERBAGI
Kelompok Cipayung Plus Kota Medan mengumpulkan tanda tangan dari mahasiswa sebagai bentuk dukungan yang diaplikasikan sebagai Petisi Safari Mahasiswa Kota Medan Menolak Isu SARA dan politik identitas dalam Pilkada Sumut 2018, Selasa (3/4). (foto istimewa)
Kelompok Cipayung Plus Kota Medan mengumpulkan tanda tangan dari mahasiswa sebagai bentuk dukungan yang diaplikasikan sebagai Petisi Safari Mahasiswa Kota Medan Menolak Isu SARA dan politik identitas dalam Pilkada Sumut 2018, Selasa (3/4). (foto istimewa)

akses.co – Beberapa elemen organisasi yang berbasis kemahasiswaan dan pemuda yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus Kota Medan, terus menyuarakan pesan positif dalam melaksanakan pesta demokrasi Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018.

Pentingnya situasi masyarakat yang aman dan damai dalam Pilgubsu 2018 menjadi topik utama yang tetap difokuskan kelompok Cipayung Plus Kota Medan.

Gelaran Pilkada Serentak 27 Juni mendatang yang damai dan lancar tanpa gangguan keamanan dan ketertiban terutama penggunaan isu SARA menjadi tujuan utamanya.

Pimpinan Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), PC Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia( GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) serta Himpunan Mahasiswa Alwashliyah (HIMMAH) pun melakukan aksi damai yang berisi ajakan kepada seluruh masyarakat Sumut untuk tetap menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta berfikir cerdas dan bijak demi terciptanya kondisi damai di Sumut, Senin (2/3) di Bundaran Majestik Jalan Gatot Subroto, Medan.

Sejalan dengan kegiatan aksi damai tersebut, Selasa (3/4), kelompok Cipayung Plus Kota Medan mengumpulkan tanda tangan dari mahasiswa sebagai bentuk dukungan yang diaplikasikan sebagai Petisi Safari Mahasiswa Kota Medan Menolak Isu SARA dan politik identitas dalam Pilkada Sumut 2018.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di sekitar kampus-kampus di Kota Medan, antara lain di kampus UINSU, USU dan UMN.

Ketua PC GMNI Kota Medan, Maman Kurniawan, menyebutkan kegiatan ini ditujukan kepada mahasiswa sebagai generasi bangsa selanjutnya, untuk membangun kesadaran sosial dan tetap menjaga kerukunan antar umat beragama.

“Mahasiswa juga diharapkan sebagai motor penggerak demokrasi dan keberagaman di Kota Medan,” ungkap Maman Kurniawan, selaku koordinator pelaksana kegiatan tersebut.

Sementara itu, Ketua PC PMII Kota Medan, Abdul Manan Siregar, yang mengkoordinatori kegiatan tersebut mengungkapkan Cipayung Plus Kota Medan akan tetap mengawal dan menjaga kestabilan Sumut khususnya Kota Medan terutama dalam menyambut pelaksanaan Pilgubsu.

“Dan Cipayung Plus Kota Medan akan melaksanakan rangkaian kegiatan lainnya yang masih dalam rangka menjaga Kota Medan dari gangguan baik yang muncul dari masyarakat Kota Medan sendiri maupun dari pihak lainnya,” ungkap Abdul Manan Siregar.

Menurut dia, belakangan ini dikhawatirkan muncul potensi konflik yang mencoba mengganggu situasi di Kota Medan khususnya yang beredar di media sosial dan media online. Kondisi ini apabila tidak diantisipasi maka akan dapat menimbulkan perpecahan.

“PC PMII Kota Medan akan tetap bekerja keras dan bersedia membangun kerja sama dengan elemen lainnya untuk mencegah perpecahan di Kota Medan terutama menyambut tahun politik,” tegasnya.

Ketua PC HIMMAH Kota Medan, M Ilham Fauzi, mengungkapkan rongrongan isu yang mengatasnamakan SARA saat ini sedang berusaha keras memecah persatuan di Kota Medan. Isu Agama merupakan potensi primadona yang dimanfaatkan pihak lain untuk mendapatkan simpati maupun dukungan.

Menurut Ilham, demokrasi akan tetap berjalan apabila dalam prosesnya mampu menciptakan situasi yang dinamis di tengah masyarakat. Politik identitas saat ini menggema di berbagai daerah.

“Pilgubsu tahun 2018 merupakan pesta yang harus dinikmati seluruh warga, bukan sebagai hasil kemenangan dari kelompok atau golongan tertentu,” tegasnya.

Ilham juga meminta agar para kompetitor dan pendukungnya untuk bersaing secara demokrasi yang sehat dan tidak mencampuradukkan politik dan identitas. “Serta kita berharap para tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh lainnya tetap menyuarakan persatuan dan kesatuan, dan bukan kebencian karena perbedaan politik, agama maupun ras,” pungkasnya. (din)

Comments

Komentar