Beranda POLITIK Budaya dalam Berpolitik atau Politik yang Berbudaya

Budaya dalam Berpolitik atau Politik yang Berbudaya

BERBAGI
Dua pembicara dalam diskusi Faisal Riza dan Ahmad Arief Tarigan mengapit moderator, Mukhlis.(ist)
Dua pembicara dalam diskusi Faisal Riza dan Ahmad Arief Tarigan mengapit moderator, Mukhlis.(ist)

MEDAN, akses.co – Kajian Rutin Alternatif Malam Sabtuan (Kramat) mengangkat Kebudayaan Politik dan Politik Kebudayaan sebagai tema dalam diskusi pada sebuah kafe di sebelah kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan, Jumat (1/3/2019).

Diskusi ini menyiratkan adanya kegamangan masyarakat, yang notabene berbudaya, saat berhadapan dengan politik tapi bisa juga sebaliknya.

Dalam dialog malam itu, Kramat menghadirkan Pengamat Politik UINSU, Faisal Riza dan Pendiri Sekolah Estetika Ahmad Arief Tarigan sebagai pembicara. Faisal Riza mengatakan bahwa secara sederhana budaya politik menciptakan karya karsa hasil prestasi akal budi manusia yang memiliki beragam bentuk, termasuk yang terbaru yaitu perilaku.

“Jadi, perilaku kita adalah bagian dari kebudayaan, dari sini muncul kajian perilaku. Contoh, survei itu adalah kajian opini, di dalam opini itu menggambarkan perilaku orang-orang. Dari opini bisa ditebak, bagaimana orang berperilaku secara politik. Singkat cerita itu disebut budaya,” sambungnya.

Pada umumnya di Asia, jelas Faisal Riza, ada tiga jenis perilaku budaya politik yang terjadi. Indikatornya dilihat ketika pemilu, ketika mengamini atau melaksanakan kebijakan dari pemerintah, hingga ketika menyikapi keputusan yang dikeluarkan pengambil kebijakan. Yakni budaya politik parokial, naif/pasif dan partisipatif.

“Budaya politik partisipatif, berkembang di negara industri, negara-negara maju. Politik partisipatif ini, masyarakatnya berkumpul membicarakan apa-apa yang mungkin mereka inginkan kemudian diajukan kepada calon-calon yang ada, dan calon-calon itu wajib mengikut dan memperjuangkan hal yang diinisiasi oleh masyarakat,” ujar Faisal Riza.

Lantas bagaimana di Indonesia? Faisal Riza, menyebut budaya politik partisipatif baru dimaknai sampai pada peristiwa beramai-ramai datang ke TPS. “Itu pun masih diragukan. Di Medan misalnya, partisipasi ke TPS-nya cenderung sangat rendah dibandingkan kota besar lainnya di Indonesia. Ini mungkin disebabkan, karena tidak punya mekanisme untuk menuntut janji-janji dewan kita, pemimpin kita,” ungkapnya.

Sementara Ahmad Arief Tarigan dalam kesempatannya menyampaikan bahwa kita kerap memaknai kebudayaan hanya sebagai sesuatu yang tradisional. “Pemahaman kita dan masyarakat Asia umumnya menganggap budaya itu sesuatu yang sakral, dan politik diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang kurang sakral,” katanya.

Ahmad Arief mengisahkan, dalam sejarah kebangsaan, Indonesia mengalami dua mainstream. Pertama adalah politik sebagai panglima, dan yang kedua adalah ekonomi sebagai panglima. Hal tersebut membuat Indonesia seakan menjadikan politik sebagai tujuan, padahal seharusnya politik digunakan untuk mencapai tujuan.

“Maka dari itu, kita justru ingin mengusulkan bahwa budaya adalah panglima. Politik kebudayaan itu melihat dari makna, karena sesungguhnya peristiwa budaya itu adalah bagaimana pemaknaan manusia terhadap sesuatu yang termanifestasikan lewat praktik-praktiknya,” ungkapnya.

Dalam kebudayaan politik, lanjut Ahmad Arief, gagasan dan praktik-praktiknya bersifat melengkapi. Sebagaimana di dalam ekosistem, seekor singa tidak akan mengejar rusa lagi saat kenyang setelah beberapa waktu sebelumnya telah memburu seekor rusa.

“Itu artinya berbicara kecukupan. Namun hari ini politik kita dibangun berdasarkan kecemasan. oleh karena itu, narasi politik yang dimunculkan adalah narasi ketakutan. Contoh, kalau anda tidak memilih yang ini jadi begini, kalau memilih yang itu jadi begitu,” ujarnya.

Di akhir kesempatan Ahmad Arief menyimpulkan, politik kebudayaan adalah paradigma yang berisi soal bagaimana kita memandang politik sebagai apa dan apa tujuannya. “Kemudian, karena politik kebudayaan juga berbicara tentang pemaknaan, dalam pemaknaan itu tidak semata-mata tentang tekstual, tapi juga tentang bagaimana nilai-nilai itu termanifestasi,” pungkasnya.(rel/rih)

Comments

Komentar