Beranda OLAHRAGA PSMS Degradasi di Masa Sihar, Pro Duta pun Hambar

PSMS Degradasi di Masa Sihar, Pro Duta pun Hambar

BERBAGI
Pemain PSMS melakukan latihan pemanasan di Stadion Kebun Bunga Medan. (AKSESDOTCO/sam)
Pemain PSMS melakukan latihan pemanasan di Stadion Kebun Bunga Medan. (AKSESDOTCO/sam)

SETELAH menjalani tiga laga awal dengan tiga poin, usai mengalahkan Persija Jakarta 6 April 2018, PSMS Medan akan kembali berlaga di Liga 1 melawan PSIS Semarang, Minggu (15/4/2018) di Stadion Maguwoharjo Sleman. Soal hasilnya, tentu kita ingin PSMS Medan merebut tiga poin lagi di sana.

Mengangkat PSMS Medan era modern dalam sehelai catatan, pastinya tak patut menyisihkan dua nama. Kebetulan, dua nama ini sedang dalam pertarungan pada arena yang bernama Pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Yakni Sihar Sitorus dan Edy Rahmayadi.

Meski banyak menorehkan jasa, tapi sangat tak etis mengaitkan lagi Edy Rahmayadi dengan PSMS Medan mengingat dirinya sekarang juga Ketum PSSI, induk organisasi sepakbola tanah air. Jadi, penulis hanya banyak mencatat soal PSMS Medan era Sihar Sitorus saja.

Lalu, bagaimana dengan Djarot Saiful Hidayat yang dalam beberapa kesempatan dikaitkan akan membangkitkan sepakbola Medan?

Membahas Djarot dengan sepakbola hampir pasti tidak ada yang bisa untuk dicatat. Lain halnya dengan Sihar Sitorus. Penulis meyakini Sihar Sitorus yang merupakan putra Batak juga senang dengan PSMS Medan. Dia pasti juga suka dengan sepakbola.

Salah satu bukti adalah pria dengan nama lengkap Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus Pane itu pernah bermanuver dari seorang pengusaha ke pihak yang mengurusi sepakbola.

Berstatus banyak uang, anak mendiang DL Sitorus itu secara mengejutkan mengambilalih pengelolaan PSMS Medan, klub sepakbola asal Kota Medan, setelah Indonesia memutuskan untuk menggelar kompetisi sepakbola profesional, Liga Super Indonesia (LSI).

Bermodal PSMS Medan jadi runner up Divisi Utama 2007/2008, Sihar cukup pede melangkah, kendati menghadapi berbagai tantangan. Yang paling krusial, PSMS Medan era Sihar Sitorua harus menjalani pertandingan di luar Kota Medan yang notabene merupakan markas, pasca verifikasi Stadion Teladan sebagai homebase gagal memenuhi regulasi yang ditetapkan operator liga.

Bukannya memperbaiki stadion, tim Ayam Kinantan kala itu harus hijrah ke beberapa tempat untuk pemusatan latihan dan sebagai stadion kandang.

Stadion Siliwangi Bandung dipilih sebagai stadion homebase. Selanjutnya, skuad PSMS kembali berpindah ke Stadion Jakabaring Palembang. Sihar lebih memilih jadi tim musafir, jauh dari dukungan suporter, dibanding cari akal membenahi Stadion Teladan.

Tidak hanya markas tim yang berganti-ganti, arsitek The Killer-julukan PSMS lainnya-kala itu juga harus mengalami bongkar pasang. Mulai dari Erick Williams, Iwan Setiawan, Liestiadi hingga Rudi Keltjees tidak dapat berbuat banyak mengangkat prestasi Esteban Guillen Tejera dkk kala itu. Hasilnya, PSMS harus melalui babak play-off dan akhirnya terdegradasi ke liga kasta kedua, kalah adu penalti dengan skor 7-6 oleh Persebaya Surabaya, 30 Juni 2009 silam.

Prestasi di Piala AFC sebagai tim Indonesia pertama yang melaju ke babak 16 besar seolah tiada artinya. Degradasi menjadi anti-klimaks perjuangan PSMS musim itu.

Di luar dualisme kompetisi musim 2011-2012 yang membuat PSMS terdongkrak ke liga kasta pertama, PSMS akhirnya benar-benar kembali ke kompetisi tertinggi sepak bola tanah air setelah mencapai final Liga 2 musim 2017 atau delapan tahun berselang, kendati kembali kalah oleh Persebaya yang menjadi juara.

Seolah jera meminang klub andalan Sumut itu, Sihar selanjutnya mencoba peruntungannya dengan membeli klub asal Yogyakarta, Pro Duta FC.

Kondisi klub yang tidak boleh lagi menggunakan dana APBD membuat Sihar tertarik mengelolanya, mirip seperti yang dia lakukan kepada PSMS Medan. Pro Duta yang semula bermarkas di Yogyakarta dipindahkan ke Kota Medan musim Divisi Utama 2010.

Sayangnya, tahun 2017 menjadi tahun terakhir klub milik Sihar itu, setelah memutuskan mundur dari kompetisi dengan alasan tak lagi menemukan lingkungan kompetisi yang baik.

Sihar beralasan, PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku pengelola liga profesional di bawah PSSI, tidak punya kepastian terkait format resmi dan regulasi sejak awal.

Alasan itu terbantahkan dan opini publik pun menyasar pada ketidaksiapan Pro Duta mengikuti kompetisi. Apalagi, Pro Duta memulai kompetisi dengan diperkuat kurang dari 20 pemain dan hanya menggelar persiapan beberapa hari jelang kick-off Liga 2 musim 2017. Hasilnya, Sihar harus kembali merasakan pahitnya terdegradasi.

Pelatih Pro Duta kala itu, Ansyari Lubis menyebut, skuad asuhannya hanya terdiri dari 17 pemain termasuk dua penjaga gawang dan baru berlatih kurang dari lima hari jelang kick-off kompetisi.

ASMU Bubar

Selain mencoba peruntungan dengan mengelola klub profesional, Sihar juga membentuk Akademi Sepakbola Medan United (ASMU) di tahun 2008. Harapannya, dari akademi sepakbola tersebut akan lahir pesepakbola tangguh. Sayangnya, kini keberadannya juga tidak jelas.

Harapan Sihar bisa terlibat aktif dalam pengelolaan sepakbola di Indonesia dengan menjadi anggota EXCO PSSI saat masih diketuai Djohar Arifin Husin juga tidak bertahan lama lantaran Kongres Luar Biasa PSSI, 18 April 2015 akhirnya memilih La Nyalla Mahmud Mattalitti sebagai ketua umum PSSI yang notabene berseberangan dengan Sihar.

Lalu apalagi catatan tentang Sihar dan sepakbola?

Klaim Sihar membeli klub sepakbola yang berkompetisi di Liga 3 Belgia terasa cukup menggelitik. Pasalnya, tim Indonesia yang notabene berkompetisi di wilayah tempat tinggalnya di Indonesia saja harus “babak belur” dalam pengelolaannya, apa lagi di negara nun jauh di Eropa, Belgia.

Apalagi, Sihar juga belum menyebutkan nama klub tersebut, terasa tambah menggelikan. Meskipun belum menyebut nama klub tersebut, pamornya langsung naik pasca pengakuannya tersebut pada wak media di Warkop Jurnalis di Medan beberapa waktu lalu.

Apalagi jika disebut, pamornya pasti akan meroket tajam. Paling tidak, berada di bawah Erick Thohir, pengusaha Indonesia pemilik Inter Milan, klub liga Serie A Italia. (*)

Penulis

Rakyat Asril, editor Bumantaranews.com, Presidium Medan Jurnalis Club.

Comments

Komentar