Beranda OLAHRAGA Ini Alasan Kenapa Muhammad Ali jadi yang Terhebat Sepanjang Masa

Ini Alasan Kenapa Muhammad Ali jadi yang Terhebat Sepanjang Masa

BERBAGI
Ekspresi Muhammad Ali saat meng KO Sonny Liston di Lewiston, Maine, 25 Mei 1965. (int)
Ekspresi Muhammad Ali saat meng KO Sonny Liston di Lewiston, Maine, 25 Mei 1965. (int)

akses.coThe Greatest, GOAT (The Greatest of All Time) atau yang terbaik sepanjang masa, yang disematkan (self declare) oleh Muhammad Ali ataupun diberikan publik pencintanya bukan tanpa alasan.
Kepiawaiannya di atas ring tinju kelas berat mampu menyedot perhatian khalayak dari berbagai penjuru dunia. Di Indonesia sendiri, jalanan akan sepi jika petinju kelahiran 17 Januari 1942 itu berlaga.

Belakangan, kendati dengan julukan berbeda, Floyd “Money” Mayweather Jr menahbiskan dirinya sebagai TBE (the best ever) atau yang terbaik setelah pensiun dengan rekor sempurna 50-0.

Memang, beda dengan Mayweather yang tidak pernah kalah, Cassius Clay Jr, nama Ali sebelum memeluk Islam, mengalami lima kekalahan sepanjang karirnya. Kemenangan paling mengejutkan terjadi saat Ali harus dipaksa berhenti bertanding oleh pelatihnya, Angelo Dundee di ronde 10, setelah tidak bisa berbuat banyak menahan gempuran Larry Holmes di penghujung karirnya, 37 tahun silam.

Ali sebenarnya masih ingin bertarung pada pertandingan di Las Vegas, Nevada, 20 Oktober 1980. Tapi Dundee memaksa wasit menghentikan pertandingan. Kekalahan itu selanjutnya dinilai lantaran Ali sudah dalam fase awal penyakit parkinson yang dia alami hingga akhir hayatnya. Namun, kepada Cus D’ Amato, pelatih Mike Tyson yang juga sahabat Ali, bahwa dia terlalu banyak mengonsumsi obat penurun berat badan saat persiapan pertarungan itu.

Kekalahan lain dialami ketika menantang Trevor Berbick 1982 pada laga bertajuk “Drama in Bahama”. Ali kalah angka mutlak. Namun, pertandingan tersebut, ayah petinju perempuan legendaris Laila Ali itu memberikan perlawanan berarti kendati mulai terlihat mengidap parkinson dan berusia 40 tahun. Laga itu jadi laga perpisahan lantaran dia lalu memutuskan pensiun dari dunia tinju, kali ini permanen.

“Tidak ada yang bisa mengalahkan Ali dua kali,” kata Mike Tyson, saat ditanyai komentarnya terkait kehebatan idolanya itu dalam video wawancara yang beredar di laman youtube.

Kekalahan pertama Ali didapatkan saat menghadapi rival terbesarnya, Joe Frazier, 8 Maret 1971 di Madison Square Garden. Joe Frazier menang angka mutlak pada pertemuan pertama dari dan berhasil mengkanvaskan Ali di ronde 11 dengan pukulan hook kirinya yang fenomenal. Anak pertama pasangan Cassius Clay Sr dan Odessa Clay mampu bertahan hingga pertarungan usai.

“Dia (Frazier) adalah juara yang babak belur,” ujar Muhammad Ali, menanggapi hasil itu setelah mengetahui Frazier harus ke rumah sakit dengan wajah babak belur mendapatkan perawatan intensif hampir sebulan lamanya.

Banyak yang menilai Ali terlalu dini menantang Frazier setelah hanya melewati dua pertandingan pemanasan pasca 3,5 tahun tidak boleh naik ring sebagai hukuman menolak wajib militer ke Vietnam.

Kekalahan berikutnya didapatkan saat menghadapi Ken Norton, 31 Maret 1973. Bahkan, Ali harus merasakan rahangnya patah oleh pukulan Norton. Namun, perjuangan Ali yang pantang menyerah menghasilkan kemenangan split bagi Norton.

Banyak pengamat menilai, kekalahan pria yang menikahi setidaknya empat perempuan sepanjang hidupnya itu lantaran terlalu menganggap enteng lawan. Selanjutnya, Frazier dan Norton selalu kalah saat bertarung dengan Ali di masing-masing dua pertarungan berikutnya.

Leon Spinks menjadi petinju lain yang mengalahkan Ali, 15 Februari 1978 di Las Vegas, Nevada. Ali yang menerapkan gaya ‘rope a dope’ ternyata tidak membuat Spinks yang jauh lebih muda keletihan. Namun, Spinks hanya meraih kemenangan split (2 dari 3 juri). Pertemuan kedua, 15 September, Ali menang angka mutlak atas Spinks dan sukses mencatatkan rekor juara dunia tinju kelas berat untuk ketiga kalinya.

Ali tidak pernah kalah KO, itu jadi bukti ketangguhan ayah sembilan anak itu di ring tinju. Bahkan ketika harus jatuh saat menerima pukulan telak lawan, Ali kembali bangkit dan memenangkan dua dari tiga pertarungan, seperti menghadapi Sonny Banks, 1962 dan Henry Cooper, setahun berikutnya dengan kemenangan TKO.

Banyak pengamat tinju dunia yang menilai peraih penghargaan BBC Sports Personality of the Century tahun 2000 silam itu tahan pukul atau punya dagu yang kuat. “Larry Holmes dan Muhammad Ali punya dagu paling kuat. Dipukul tapi mereka terus bergerak,” kata Ernie Shavers, salah satu petinju
kelas berat yang punya pukulan terkuat saat diwawancara.

Sementara Ali pun berkomentar soal dirinya yang tahan pukul itu. “Tidak banyak yang tahu aku punya dagu yang kuat karena aku tidak benar-benar membuat orang melihatnya,” kata petinju dengan salah satu pertahanan terbaik sepanjang masa itu.

Soal sisi kemanusiaan dan perjuangannya membela hak-hak masyarakat kulit hitam (Afro-Amerika) di Amerika hingga akhir hayatnya membuatnya disejajarkan dengan pejuang hak asasi bagi warga kulit hitam lainnya macam Martin Luther King Jr, Malcolm X, hingga Nelson Mandela.

Tapi, ring tinju yang dia sebut hanya panggung untuk memperkenalkannya ke dunia membuat cabang olah raga itu meraih fase keemasan. Ali merupakan pionir bagi fantastisnya nilai uang bayaran bagi para petarung, termasuk bela diri campuran atau MMA (mix martial arts) saat ini.

Siapa sosok petinju kelas berat sepanjang masa, masih jadi perdebatan sengit para pakar tinju dunia. Tapi abang kandung Rahman Ali, yang tutup usia 3 Juni 2016 itu punya semua instrumen sebagai petinju terhebat yang pernah ada, kecepatan, agilitas, tahan pukul, tak kenal takut, hingga kepiawaiannya mempromosikan pertandingannya dengan rasa percaya diri amat tinggi.

Dia bukan hanya seorang juara dunia tinju yang lengkap, tapi juga entertainer sejati, sosok yang pernah menjadi yang paling terkenal di dunia, mungkin juga hingga kini. (sam)

Comments

Komentar