Beranda METRO Video Miftahul Chair Buat Resah Masyarakat

Video Miftahul Chair Buat Resah Masyarakat

BERBAGI
Logo Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara.
Logo Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara.

akses.co – Sekretaris Umum Majelis Ulama (MUI) Sumut DR. H. Ardiansyah, MA menyesalkan beredarnya video dari seseorang yang bernama Miftahul Chair yang membolehkan umat Islam memilih pemimpin non muslim.

Video Miftahul Chair yang beredar seminggu belakangan ini dinilai telah menimbulkan keresahan di masyarakat, pasalnya ia membawa-bawa ayat suci Alquran untuk membuat tipu daya di masyarakat.

Miftahul Chair ini diketahui merupakan salah satu orang yang diberangkatkan umroh oleh Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus (Djoss) beberapa minggu lalu.

Ternyata setelah dikonfirmasi, Sekretaris Umum MUI Sumut Ardiansyah (foto) mengatakan, bukan kali ini saja sosok Miftahul ini membuat kegaduhan di masyarakat, bahkan sebelumnya ia pernah ditegur atas ceramah-ceramahnya yang kontroversial dan dinilai bertentangan dengan pendapat para Ulama.
“Kita dari Komisi Fatwa MUI pernah memanggilnya untuk mengklarifikasi pandangan-pandangannya yang sangat bertentangan dengan pendapat para ulama, ketika itu dia sudah berjanji untuk tidak membuat isu-isu yang kontroversi lagi,” kata Ardiansyah, Kamis (7/6/2018).

Selain ajakan untuk memilih pemimpin non muslim, pandangan-pandangan nyeleneh yang pernah dilontarkan Miftahul adalah dengan mengatakan tidak wajibnya seorang muslimah untuk menutup aurat. Pandangan seperti ini dinilai bisa menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat, untuk itu penting bagi MUI untuk melakukan tahdzir atau menyarankan untuk menjauhi pendapat dari Miftahul Chair, karena apa yang dikatakannya sungguh tak berdasar dan menyalahi syariat Islam.

Ardiansyah menyayangkan perbuatan Miftahul yang melanggar janjinya untuk tidak membuat isu yang bisa menimbulkan fitnah. Ardiansyah mengatakan kalau imbauan bagi umat Islam untuk memilih pemimpin Islam sudah difatwakan sebelumnya.
“Fatwa MUI sudah jelas bahwa umat Islam diwajibkan untuk memilih pemimpin yang seakidah dan seiman dan diharamkan untuk golput. Pada tahun 2009 juga telah disepakati para ulama di Sumatera Barat agar memilih pemimpin yang muslim-muslim,” ungkap Ardiansyah.

Ardiansyah mengakui sesungguhnya Miftahul bukanlah asatidz yang dikenal di kalangan MUI. Miftahul dulunya dikenal sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi Islam di Medan, dan telah banyak dilaporkan orang ke MUI karena pendapatnya yang kontroversial.

“Saya mengimbau kepada umat Islam agar tetap istiqamah dalam menjalankan agama, tetap ikuti fatwa dan imbauan MUI. Kepada kalangan-kalangan muda juga agar jangan mempermainkan ayat-ayat Alquran, jangan memperjualbelikannya, ketahuilah sesungguhnya adzab Allah itu sungguh sangat pedih,” pungkas Ardiansyah. (rel)

Comments

Komentar