Beranda METRO RS USU Gelar Seminar Hari Ginjal Sedunia, 195 Juta Wanita Terkena PGK

RS USU Gelar Seminar Hari Ginjal Sedunia, 195 Juta Wanita Terkena PGK

BERBAGI

akses.co – Tingginya angka penyakit gagal ginjal di dunia sangat memprihatinkan. Hal ini tentunya harus dicari solusi termasuk di antaranya bagaimana meningkatkan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya gagal ginjal.

Harapan itu dikemukakan, Direktur Utama RS USU Dr dr Syah Mirsya Warli, Sp.U (K) saat membuka seminar Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day), Rabu (07/03/2018) di Ruang Pertemuan Unit Hemodialisa lantai 4 RS USU. Hari Ginjal sedunia sendiri jatuh pada tanggal 8 Maret dan diperingati setiap tahunnya dan untuk tahun 2018 mengambil tema Ginjal dan Kesehatan Wanita.

Hadir dalam kesempatan seminar itu Pelayanan Medik dan Keperawatan, dr Riyadh Ikhsan, M.Ked (DV), Sp.KK, Direktur Umum, Sumber Daya Manusia, dan Keuangan dr Dewi Indah Sari Siregar, M.Ked (Clin Path).,Sp.PK dan Direktur Diklat, Penelitian dan Kerjasama dr Sake Juli Martina, Sp.FK . Selain hadir dan tampil sebagai pembicara dalam seminar yang mengambil tema ‘Kidney and Women Health Include, Value and Empower, dr Riri Andri Muzasti, M.Ked (PD) , Sp.PD (Staf Divisi Nefrologi dan Hipertensi (PD) , Sp.PD (Staf Divisi Nefrologi dan Hipertensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam yang juga Kepala Unit HD RS USU). Sementara para peserta seminar antara lain datang dari para pasien, keluarga pasien, para tenaga medis serta mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMSU dari jurusan Ilmu Komunikasi.

Diakui dr Syah Mirsa Warli, saat ini angka gagal ginjal di dunia sangat tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya. Hal itu disebabkan banyak hal di antaranya tingginya angka obesitas, diabetes dan hipertensi yang terus meningkat tajam yang semuanya berujung pada penyakit gagal ginjal. ‘’Mengapa hal ini bisa terjadi, tentunya masih kurangnya edukasi yang dilakukan para tenaga medis terhadap bahaya yang mengancam ini, ’’ terangnya.

Di masa lalu, banyak orang tua yang menilai jika anaknya kurus maka dirinya (orang tua) dianggap gagal dalam memberikan makanan yang bergizi. Padahal dengan postur anak balita yang gemuk dan mengarah kepada berat badan yang berlebih hingga mengakibatkan obesitas menyebabkan peluang bibit penyakit gagal ginjal sejak dini akan tumbuh dan berkembang. Hal inilah yang harus dilakukan para tenaga medis khususnya yang berkecimpung dalam bidang nefrologi untuk terus mengkampanyekan hidup sehat sejak dini.

Dr Syah Mirsa Warli, mengajak para tenaga medis untuk mampu memotong mata rantai gagal ginjal untuk mampu memotong mata rantai gagal ginjal sehingga ke depan Indonesia akan terbebas dari penyakit mematikan ini. Diakuinya, pemerintah bias dinilai gagal kalau tidak mampu menghentikan beredarnya mesin-mesin pencuci darah hingga ke berbagai rumah sakit di pelosok daerah.’’Jangan kita merasa bangga, RS banyak memiliki mesin pencuci darah, namun kita semua harus mampu menghentikan itu. Itulah diperlukan kemampuan kita khususnya di RS USU untuk terus menggali kemampuan untuk melaksanakan transpalansi ginjal demi kualitas kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Kita sedih manakala melihat seorang suami, ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung kehidupan namun di usianya yang masih produktif si ayah harus cuci darah, ’’ akunya. Untuk itu dr Syah Mirsa Warli mengajak semua kalangan untuk terus menggelorakan kampanye hidup sehat agar terhindar dari bahaya gagal ginjal.

Saat ini RS USU suda anak, dan saat ini sudah mengoperasikan 109 tempat tidur dengan rencana penambahan 56 tempat tidur hingga total akan mencapai 165 tempat tidur. Wanita dan Penyakit Ginjal Sementara itu dr Riri Andri Muzasti dalam paparannya antara lain menyebutkan penyakit Ginjal merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Gagal ginjal dapat menyebabkan kematian dini.

Berdasarkan data, Penyakit Ginjal Kronis (PGK) mengenai sekitar 195 juta wanita di seluruh dunia. Sementara PGK merupakan penyebab kematian utama ke-8 pada wanita, mendekati 600.000 kematian setiap tahunnya. PGK lebih cenderung terjadi pada wanita, dengan prevalensi rata-rata 14% pada wanita dan 12% pada pria.

Berdasarkan penelitian, sebut dr Riri, perkembangan PGK lebih lambat pada wanita dibandingkan pria. Jumlah wanita yang menjalani dialisis lebih rendah dari jumlah pria. Beberapa penyakit ginjal yang sering pada wanita yakni Nefritis lupus adalah penyakit ginjal akibat penyakit autoimun. Kemudian Pielonefritis adalah infeksi pada satu atau kedua ginjal serta infeksi saluran kemih Penyakit gagal ginjal pada wanita hamil, kata dr Riri juga sangat berisiko besar. Hal itu akan mengurangi kesuburan tetapi konsepsi masih dapat mungkin terjadi.

Sementara pada wanita yang berhasil di transplantasi, kesuburan bisa dipulihkan dan kemungkinan kelahiran akan meningkat Dibutuhkan kesadaran yang lebih tinggi tentang PGK Dibutuhkan kesadaran yang lebih tinggi tentang PGK pada kehamilan, untuk mengidentifikasi PGK tepat waktu , dan penatalaksanaan selama dan sesudah kehamilan.

Diakuinya, kehamilan yang tak terpelihara akan menyebabkan pertumbuhan janin terganggu. Sama halnya pada kelahiran prematur, apalagi yang immature. Walaupun kemampuan untuk memelihara BBLSR sudah sangat maju dewasa ini. Jumlah nefron yang rendah saat lahir, tidak akan mungkin bertambah lagi. Sementara kesehatan ibu hamil merupakan salah satu upaya pencegahan PGK, HT, DM di masa depan Pada kesempatan itu, dr Riri menyampaikan, dibutuhkan kesadaran yang tinggi, diagnosis yang tepat waktu dan penanganan PGK yang tepat pada kehamilan. Kehamilan mungkin merupakan kesempatan yang baik untuk diagnosis dini PGK, sehingga memungkinkan perencanaan intervensi terapeutik. (rel/hms)

Comments

Komentar