Beranda METRO Kembangkan Kebudayaan Lewat Pentas Seni Kebudayaan

Kembangkan Kebudayaan Lewat Pentas Seni Kebudayaan

BERBAGI
FGD digelar di Garuda Plaza Hotel, Medan, Rabu (21/03/2018). (akses.co/din)
FGD digelar di Garuda Plaza Hotel, Medan, Rabu (21/03/2018). (akses.co/din)

akses.co – Pembentukan pusat interaksi atau episentrum kebudayaan di Kota Medan dianggap perlu untuk mengembangkan kebudayaan yang beragam di kota terbesar ketiga di Indonesia ini.

Kebudayaan menjadi hal penting yang tidak hanya untuk menyadarkan para generasi muda untuk mencintai budayanya namun juga sebagai langkah yang strategis untuk mendatangkan wisatawan, baik lokal maupun asing.

Taman Sri Deli, Medan menjadi tempat yang sangat strategis untuk dijadikan episentrum kebudayaan di Kota Medan. Mengingat, Taman Sri Deli menjadi salah satu ikon Kota Medan yang dikenal sebagai salah satu warisan Kesultanan Deli.

Dalam Focus Group Discussion yang digelar oleh Lingkar Baca Boemipoetra dan Anak Deli Organizer di Garuda Plaza Hotel, Medan, Rabu (21/03/2018), Dr Phil Ichwan Azhari dari Universitas Negeri Medan (UNIMED) menggagas untuk membentuk episentrum atau pusat kebudayaan di masing-masing zona etnis di Kota Medan.

“Di masa Belanda dulu, sekitar 1930 sempat dibentuk zonasi etnik Medan. Zonasi itu dibentuk berdasarkan komunitas etniknya. Seperti etnik Melayu di Labuhan Deli, etnik Mandailing di kawasan Jalan Glugur, etnik India di kawasan Kampung Madras dan lainnya,” jelasnya.

Dr Phil Ichwan Azhari menambahkan dari masing-masing zonasi etnik itu bisa dibentuk pentas budaya yang digelar secara berkesinambungan.

Bukan tidak mungkin, dari pusat kebudayaan yang ada di masing-masing zonasi etnik itu digelar berbagai kompetisi bertajuk etnik yang akhirnya bisa dipentaskan di Taman Sri Deli sebagai episentrum yang strategis di Kota Medan.

Dengan begitu, maka episentrum kebudayaan di Kota Medan dapat diwujudkan.

“Kita bisa membangkitkan episentrum kebudayaan lewat komunitas etnis dan episentrum kebudayaan harus didukung oleh komunitasnya, karena kebudayaan itu harus diwariskan, tidak boleh lekang di tekan zaman,” paparnya.

Sementara itu, Dr Evi Brata Madya M.Si dari Universitas Islam Negeri (UIN) mengungkapkan semua stakeholder memiliki peran penting untuk membuat acara pagelaran budaya, khususnya budaya Melayu yang menjadi tuan rumah di Kota Medan.

“Perlu ada ikon Melayu di Kota Medan, dengan membuat tugu Serambi Madinah. Kata Madinah berasal dari maidani yang berarti Medan atau lapangan,” ungkapnya saat menjadi salah satu narasumber di acara FGD tersebut.

Mewakili Walikota Medan, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Medan, Herman mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan menyambut baik digelarnya acara FGD tersebut.

“Sebagai kota yang multi etnik, terdapat berbagai aliran agama dan kebudayaan di Kota Medan yang notabennya memiliki potensi terjadi gesekan. Alhamdulillah, itu tidak terjadi, karena warganya menjunjung tinggi nilai persatuan,” ungkapnya saat membacakan kata sambutan Walikota Medan, T Dzulmi Eldin di pembukaan acara FGD tersebut.

Herman menambahkan Pemko Medan sangat mendukung acara yang berbau kebudayaan, karena Kota Medan bisa menjadi besar atas landasan budaya bangsa.

“Membangun budaya di Kota Medan tanpa keberpihakan terhadap salah satu kultur, karena Kota Medan terdiri dari berbagai etnik. Semoga ,FGD ini bisa menghasilkan konklusi yang positif,” paparnya.

Diketahui, FGD tersebut diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai kalangan dengan tujuan untuk melahirkan sebuah petisi yang mendorong terwujudnya episentrum kebudayaan di Kota Medan, merekomendasikan lokasi yang paling tepat dijadikan sebagai episentrum kebudayaan dan merekomendasikan prasyarat dan landasan ilmiah atas tahapan-tahapan dalam mewujudkan episentrum kebudayaan di Kota Medan. (din)

Comments

Komentar