Beranda METRO Jangan Ada Lagi Alihfungsi Hutan Mangrove

Jangan Ada Lagi Alihfungsi Hutan Mangrove

BERBAGI
Tokoh muda Sumut, Musa Rajekshah dan pengelola kawasan wisata mangrove, Wibi Nugraha (tengah) bersama-sama menanam bibit mangrove di Desa Bagan, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Kamis (17/08/2017). (akses.co/din)
Tokoh muda Sumut, Musa Rajekshah dan pengelola kawasan wisata mangrove, Wibi Nugraha (tengah) bersama-sama menanam bibit mangrove di Desa Bagan, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Kamis (17/08/2017). (akses.co/din)

akses.co – Pemerhati lingkungan, Wibi Nugraha meminta agar tidak ada lagi oknum yang mengalihfungsikan lahan mangrove. Mengingat, kerusakan lahan mangrove di Deli Serdang, khususnya di Sumatera Utara sudah sangat mengkhawatirkan.

Hal itu diungkapkannya usai upacara peringatan HUT ke 72 Republik Indonesia di kawasan wisata mangrove, Mekar Bahari, Desa Bagan, Percut, Deli Serdang bersama tokoh muda Sumatera Utara, Musa Rajekshah, Kamis (17/08/2017).

“Cuma satu yang saya minta kepada pemimpin provinsi ini nantinya, agar jangan ada lagi pengalihfungsian hutan mangrove. Soalnya, dampak akan sangat parah terhadap masyarakat pesisir pantai,” ungkapnya.

Wibi Nugraha menjelaskan dampak pengalihfungsian hutan mangrove tidak hanya berdampak terhadap abrasi garis pesisir pantai, namun juga membuat habitat kepiting, udang, kerang dan biota laut lainnya akan hilang.

“Dulu, masyarakat di kawasan Bagan Percut ini bisa mendapatkan kepiting 20 kilogram per hari dengan mudah. Tapi sekarang, untuk mencari kepiting 5 kilogram saja sulit. Itu karena, hutan mangrovenya dialihfungsikan. Jadi tak ada lagi rumah untuk kepiting, udang dan lainnya untuk bersarang,” jelasnya.

Wibi menambahkan kerusakan hutan mangrove di Desa Percut Sei Tuan, Deli mencapai 70% dari total 3000 hektar hutan mangrove di kawasan itu. Bila dibiarkan, kerusakan hutan mangrove akan bertambah luas.

“Untuk meminimalisir kerusakan hutan mangrove, saya membuat kawasan wisata mangrove di sini yang luasnya sudah mencapai 1505 hektar sejak 2006 lalu. Saya butuh dukungan semua pihak untuk bisa melestarikan hutan mangrove,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, tokoh muda Sumut, Musa Rajekshah mengungkapkan pemerintah harus rutin melakukan sosialisasi pemberdayaan hutan mangrove kepada masyarakat.

“Cara yang paling mudah, pemerintah membuat brosur selebaran yang menjelaskan tentang dampak kerusakan hutan mangrove dan total areal hutan mangrove yang sudah rusak. Brosur-brosur disebarkan di kawasan wisata mangrove seperti ini. Biar masyarakat sadar betapa pentingnya menjaga hutan mangrove,” ungkapnya.

Musa Rajekshah yang akrab disapa Ijek itu menambahkan pihaknya akan fokus dan memperhatikan para pemerhati lingkungan bila nantinya dipercaya masyarakat untuk memimpin Sumut 5 tahun kedepan.

“Para pemerhati lingkungan seperti inilah yang seharusnya diperhatikan pemerintah dan diberi dukungan. Karena mereka bekerja tanpa pamrih untuk menjaga dan melestarikan lingkungan, khususnya kawasan hutan mangrove,” pungkasnya. (din)

Comments

Komentar