Beranda METRO IA ITB Sumut Tidak Bersikap Terkait Pembangunan PLTA Batang Toru

IA ITB Sumut Tidak Bersikap Terkait Pembangunan PLTA Batang Toru

BERBAGI

akses.co – Pengurus Ikatan Alumni (IA) ITB Sumut dengan tegas menyatakan pihaknya tidak pernah memberikan dukungan maupun menolak pembangunan PLTA Batang Toru. Mereka hanya mendorong adanya keterbukaan informasi dan sosialisasi dari pihak investor dan pemerintah terkait pembangunan PLTA Batang Toru agar tidak menimbulkan simpang siur informasi yang berpotensi meresahkan masyarakat.

Penegasan ini disampaikan dikarenakan adanya pemberitaan di beberapa media yang menyatakan mereka mendukung pembangunan tersebut. Padahal mereka tidak dalam kapasitas itu. “Kami membaca di beberapa media yang menyatakan kami mendukung pembangunan itu. Dukungan tersebut berdasarkan seminar yang kami gelar dan FGD, 17 Desember dan 18 Desember lalu. Padahal medianya tidak diundang dan tidak dibahas dalam seminar tersebut,” ungkap Ikhsan, mewakili pengurus IA ITB Sumut kepada akses.co, Minggu (23/12/2018).

Dia menjelaskan, IA ITB Sumut mendorong lebih banyak lagi kajian dan diskusi ilmiah terkait pembangunan PLTA Batang Toru terutama berkenaan dengan keamanan bendungan dan mitigasi bencana kegempaan. Hal ini didasarkan kepada keluhan dan masukan para stakeholders yang mengevaluasi bahwa tingkat keamanan bendungan dan mitigasinya belum memperoleh perhatian yang cukup. “IA ITB Sumut mendorong berjalannya prosedur pembangunan PLTA yang benar, seksama dan hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai hal, termasuk amdal, desain dan posisi bendungan, aspek kegempaan, sosial, ekonomi, mitigasi bencana untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin terjadi,” tambahnya.

Diskusi 17 Desember 2018 lalu berdasarkan tanggung jawab alumni ITB untuk menyikapi permasalahan riil yang berkembang di tengah masyarakat. Seperti diketahui pembangunan PLTA Batang Toru ini merupakan proyek strategis pemerintah untuk menghasilkan 510 MW yang berada di dekat lokasi zona gempa dan sesar Sumatera yang aktif. Dalam kegiatan itu IA ITB Sumut mengundang narasumber dan stakeholders terkait. Undangan dipilih untuk dapat melihat perspektif yang berbeda terhadap permasalahan PLTA ini dalam konteks kegempaan dan bahaya sesar. Tentunya dikusi ini dilakukan dalam forum ilmiah dengan mengedepankan data-data dan fakta yang ada. Hasil yang diharapkan dengan adanya diskusi ini adalah para undangan bisa memahami dan berikutnya bisa menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi kepada masyarakat secara lebih rasional dan bijaksana. Terkait PLTA Batang Toru dihadirkan 3 narasumber yang membawakan materi masing- masing.

Seperti, perwakilan PT NSHE selaku kontraktor PLTA Batang Toru, Didiek Djawardi. Dalam materi yang berjudul, Pembangunan dan Manajemen Resiko Bendungan PLTA Batang Toru dirinya menyampaikan, pembangunan bendungan PLTA di Batangtoru sudah mengikuti ketentuan ICOLD 2016. Untuk bendungan ini natural hazardnya adalah air dan gempa karena lokasi berada diantara segmen aktif sesar sumatera. Ada 2 jenis gempa yang mungkin terjadi, yakni yang diketahui sumbernya dan yang tidak diketahui sumbernya. Oleh karena itu ditetapkan bendungan tidak dibangun di atas sesar dan sudah dilakukan studi kegempaan yang menghasilkan patokan kekuatan bendungan dan jarak terdekat gempa yang dapat berdampak pada bendungan. “Saat ini studi telah selesai dilakukan namun proses analisa masih berlangsung. Perusahaan menjamin bendungan tidak boleh runtuh sehingga tidak disiapkan analisa resiko jika bendungan jebol. Di sisi lain, waduk diakui dapat memicu terjadinya gempa,” ungkapnya dalam diskusi itu.

Sementara itu, Ahli Geologi Sumut, Lismawaty, dengan judul materi Stratigrafi Geologi Daerah Batang Toru mengungkapkan, pembangunan infrastruktur harus mempertimbangkan aspek fisik geologi karena keberadaan struktur dapat melemahkan batuan. Untuk kasus PLTA Batang Toru, keberadaan sesar sumatera menambah resiko bencana. Kondisi batuan di sekitar PLTA, meliputi kecamatan Sipirok – Marancar – Batang Toru terdiri dari batuan vulkanik, batuan sedimen dan lapisan batuan hasil letusan Gunung Toba. Jenis batuannya yaitu batu pasir, batu lempung dan batu piroklastik yang kesemuanya bersifat kekompakan rendah. “Struktur batuan seperti ini merupakan peringatan bagi semua pihak untuk berhati-hati dalam melakukan pembangunan di daerahnya. Kekuatan gempa pada jenis batuan tersebut akan terasa lebih kuat dari nilai sebenarnya. Bencana gempa dapat menimbulkan kerugian besar. Tidak dapat dicegah dan tidak dapat diperkirakan waktu, tempat dan besarnya,” jelasnya.

Sementara Ahli Gempa LIPI, Mudrik Rahmawan Daryono dengan judul Geologi Gempa Bumi Sesar Sumatera Di Daerah Batang Toru mengungkapkan, gempa yang pernah terjadi di sekitar Batang Toru mencapai 7SR dengan panjang retakan 18-30km. Gempa terjadi karena sesar aktif terus mengalami pergeseran dan pergerakan segmen-segmen dari sesar tersebut tidak dapat diperkirakan.

Sehingga bisa terjadi tunggal maupun bersamaan. Antar segmen sesar juga saling mempengaruhi. Artinya jika terjadi gempa di 1 segmen, maka dapat memicu gempa di segmen lainnya. Disamping itu faktor aktivitas manusia seperti pembangunan waduk. Selain dapat memicu terjadinya gempa juga dapat memperpendek siklus gempa. Saat ini kementrian terkait mulai merubah filosofi tata ruang sehingga faktor kebencanaan menjadi penting dibanding sebelumnya. Dengan demikian pemetaan sesar aktif perlu dilakukan terutama di kota-kota terbangun.

“Hasil penelitian terbaru menunjukkan adanya 295 sesar aktif slip rate terbaru di sesar sumatera. Dimana, sebelumnya yang tercatat hanya 81. Sementara di Tapanuli Selatan terdapat sesar aktif segmen Toru, segmen Angkola dan segmen Barumun. Dengan demikian pembangunan di Tapanuli Selatan harus berdasarkan ancaman gempa bumi. Perlu dilakukan penelitian gempa bumi yang lebih rinci sumber dan dampak ikutannya,” katanya. (eza/rel)

Comments

Komentar