Beranda METRO Gang Kecil Yang Lahirkan Karya Mendunia

Gang Kecil Yang Lahirkan Karya Mendunia

BERBAGI
Para peserta Studi Komperaktif Pemko Medan saat belajar membuat batik di Kampung Batik ketika berkunjung ke sana, Rabu (28/11/2018). (akses.co/eza)

Reza Shahab

Kampung Batik yang terletak di RT 04 RW II Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang merupakan pusat kerajinan batik di Kota Semarang. Penyebutan kampung hanya istilah saja untuk memudahkan dan gampang mempopulerkan masyarakat luas. Sebab, lokasinya hanya sebuah gang dan dihuni lebih kurang 25 kepala keluarga.

Nama Kampung Batik sendiri karena dari dulunya sejak zaman Jepang kawasan tersebut masyarakat yang bermukim berprofesi sebagai pembatik. Tidak hanya sekadar membuat sendiri, mereka juga menerima titipan dari daerah lain.

Siapa menyangka, sebelum dikenal sebagai Kampung Batik, kawasan itu rawan tindakan kriminal karena gelap. Mulai dari perampokan, pencurian sampai pembunuhan. Tidak hanya itu, kawasan tersebut juga kerap banjir.

Tidak mau terjebak dalam suasana seperti ini terus menerus, masyarakat setempat pun berembuk. Tepatnya 16 Desember 2016, berangkat dari kemauan kuat dan semangat bersama, kawasan tersebut berubah 180 derajat. Kawasan ini menjadi asri. “Tahap awal kami membenahi infrastruktunya. Butuh setahun untuk membenahi itu agar jadi seperti sekarang ini. Dari rawan jadi nyaman. Ini berkat semangat gotong royong yang merupakan ciri khas kampung. Dengan begitu mereka lebih mencintai kampung,” ungkap Seniman Mural Kampung Batik Luwianto kepada akses.co ketika berkunjung ke sana, Rabu (28/11/2018).

Begitu masuk ke gang yang terletak di Jalan MT Haryono, tertera di bagian tulisan Kampung Batik. Para pengunjung langsung melihat berbagai mural atau lukisan dinding berbagai motif, corak, dan juga kata – kata motivasi di dinding bagian kanan maupun kiri. Begitu juga sejarah batik di pulau jawa. Tidak hanya itu, di sebuah gang sempit dan tak terlalu panjang, sepanjang dindingnya dipenuhi mural sejarah berdirinya Kota Semarang. Mural tersebut dikerjakan dengan maksimal. Mulai dari penempatan gambar, kombinasi warna, sampai dengan hal lainnya dikerjakan secara rapi dan serius. Tidak salah setiap yang melihat pasti memuji.

Berbagai spot poto pun disediakan. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa belajar membantik. Jadi, tidak sekadar berbelanja. “Disini juga ada workshop, belajat pengetahuan sejarah batik, peristiwa penting di Semarang, dan lainnya. Untuk pembuatan mural sendiri menghabiskan waktu dua bulan. Ada yang saya kerjakan sendiri dan ada yang dibantu warga,” tambahnya.

Tidak hanya kawasan yang asri, hasil sentuhan para pembantik ini juga dikenal luas sampai ke mancanegara, mulai dari asia, eropa, sampai amerika. Mulai dari berbelanja langsung sampai kirim langsung ke negara peminatnya. “Ada dari Singapura, Kanada, Bulgaria, Italia, Belanda, dan lainnya. Ada juga orang Medan tahu tentang Kampung Batik ini dari orang Belanda. Para pembantik disini ada yang menjual di tempat dan ada juga yang kirim langsung,” tambahnya.

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menjaga, merawat dan memelihara warisan budaya tersebut.

Comments

Komentar