Beranda METRO Ada 4 Segmen Pusat Gempa Di Sumut

Ada 4 Segmen Pusat Gempa Di Sumut

BERBAGI
Staf Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Mudrik Daryono.
Staf Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Mudrik Daryono.

akses.co – Staf Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Mudrik Daryono mengungkapkan, ada 4 segmen yang menjadi pusat gempa darat di Sumatera Utara. Keempat segmen ini masuk dalam 22 segmen sesar sumatera.

Keempat segmen tersebut yakni, segmen Toru, segmen Barumun, segmen Angkola dan segmen Tripa. Keempat ini harus diwaspadai atau disikapi. Sebab, sangat membahayakan bagi masyarakat sekitar. “Jadi pusat gempa itu masuk dalam sesar sumatera. Di Sumut ini ada 4 segmen untuk gempa darat. Harus disikapi dan diwaspadai. Sebab, berbahaya,” jelasnya kepada akses.co, Selasa (18/12/2018).

Menurutnya, ada beberapa cara menyikapi dan mengantisipasi apabila terjadi gempa. Untuk masyarakat diberi pemahaman tentang menyelamatkan diri saat gempa denga cara membungkuk dan bersembunyi di balik meja. Sedangkan untuk pembangunan dengam cara mendirikan gedung, jembatan, rumah yang tahan gempa. Terpenting tidak memotong sesar aktif.

“Tidak ada masalah membangun. Tapi, harus mengikuti semua syarat yang saya sampaikan tadi. Kondisinya sekarang tidak tahu persis. Butuh penelitian lebih lanjut. Hanya saja pergeserannya 12 milimeter per tahun. Yang pasti begitu ada kejadian gempa, pasti parahlah,” ungkapnya.

Terkait adanya pembangunan infrastruktur di Batang Toru dengan menghabikan biaya sebesar Rp21 triliun, Mudrik mengungkapkan, hal tersebut tidak ada masalah. Selama memperhatikan hal – hal yang berkaitan dengan pembangunan. “Tidak ada masalah. Yang penting, jalan, gedung, jembatan yang dibangun tahan gempa,” tambahnya.

Sementara itu, Akademisi dari USU, Ahmad Prawira Tarigan menambahkan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan menyikapi pembangunan di Batang Toru. Pertama, melawan alam, kedua membiarkan saja atau menyerah dengan alam, ketiga jangan didekat dan keempat jangan kalah dengan gempa. Yang keempat inilah disampaikan. “Ada cara penanganan dilakukan agar tidak menghambat pembangunan. Kami sudah usulkan dilakukan rekayasa migitasi yakni, membangun dengan melihat kondisi alam. Inilah yang harus dilakukan,” ucapnya. (eza)

Comments

Komentar