POLITIK

Medan 2020 : Nasution VS Nasution

Jika Jendral Besar AH Nasution masih hidup, mungkin saja dia bakal bangga. Medan di tahun 2020 ini hanya beredar diantara Parmarga Nasution dengan Nasution saja. Betapa tidak, kota terbesar ke 3 di Indonesia dengan jumlah penduduk yang hampir 3 juta jiwa, separuhnya adalah pemilih yang bakalan diperebutkan hati nya oleh Parmarga Nasution itu. Padahal Kota Medan itu adalah Kota multikultural dengan sedikit kemodrenannya. Ya, sedikit saja karena hampir tak ada yang berubah kecuali jumlah kepadatan penduduk yang ditengarai bakal terus bertambah (angka kelahiran) berlipat ganda karena anjuran protokol kesehatan untuk “dirumah aja” akibat dari pandemi covid-19 yang tidak berkesudahan ini.

Kurang dari enam bulan kedepan dari sekarang, tepatnya 9 desember 2020 yang kebetulan bartepatan dengan hari anti korupsi sedunia sekaligus hari ulang tahun penulis, kota medan akan melaksanakan pemilihan umum kepala daerah langsung. Memilih wali dan wakil wali kota yang janji – janji kampanyenya akan terus diulang setiap periode pencalonannya. Seperti yang penulis sampaikan tadi bahwa tak ada yang berubah. Hanya bertambah, Semoga tidak menambah daftar kepala daerah yang ikut-ikutan sekolah lanjutan tingkat akhir sebagaimana para pendahulunya. Tentu ini akan menjadi ujian terberat bagi yang tersandra oleh kekuasaan dan ditengarai akan bekerja memuluskan jalan bagi lawan politik yang baru saja kelihatan.

Ada dua sosok Nasution yang sedang naik daun saat ini dan tidak asing lagi bagi warga kota medan. Nasution Pertama bernama Ahyar Nasution disingkat AN. Sebut saja sebagai “Nasution Senior” sebab, jelas lebih tua dari yang satu lagi. Ia adalah orang yang saat ini memegang tampuk kekuasaan “tak penuh” di Kota Medan karena hanya seorang Plt dipenghujung periode. Tak punya kuku dan taji terganjal pula dengan peraturan mentri dalam negeri yang mengatur tentang batasan kebijakan kepala daerah. Sebagai Wakil Wali Kota Medan, ia didaulat menjadi Pelaksana Tugas Walikota karena “beberapa hal” dan lain sebagainya serhubungan Eldin sebagai Walikota defenitif sedang berhalangan tetap sampai dengan waktu yang sudah ditentukan.

Di usia beliau yang lebih dari paruh baya bisa dipastikan urusan pengalaman pemerintahan adalah kesehariannya meski ini juga pengalaman pertamanya menjadi pemimpin di kota medan yang sebelumnya juga pernah menjadi seorang legislator. Pun begitu, tetap saja banyak warga yang merasa tidak puas atas apa yang sudah diperbuatnya. Wajar saja, Karena beliau bukan alat pemuas. Kerja kerasnya, pengabdiannya, barangkali tak cukup waktu 24 jam dalam sehari untuk terus memikirkan warganya sekaligus memikirkan untuk tetap diposisi sekarang diperiode selanjutnya. Karena itu memang tugasnya sebagi pemimpin. Karena memimpin adalah mengabdi dan melayani, barangkali itu yang membedakan menjadi pemimpin dengan menjadi “Ketua” yang biasanya hanya teriak-teriak dan marah-marah dengan anggotanya.

Kita lanjut ya.. Nasution yang ke dua, ialah anak muda dengan usia yang masih belia minim pengalaman asam dan garam apalagi dipemerintahan. Namanya Bobby Nasution disingkat BN dan kita sebut saja sebagai “Nasution Junior”. Bercita-cita besar mau mimpin warga kota medan “Kota Para Ketua” dengan segudang masalah dan segala kekusutannya. Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah bagi pendatang baru didunia politik meskipun ia tak bisa disebut orang asing sebab Parmarga “Jendral besar Nasution” juga melekat padanya. Awalnya tak banyak orang yang mengenal selain kalangan elit pejabat dan Jajaran Perusahaan Milik Neraga itu. Ia mulai santer jadi buah bibir setelah resmi meminang Tuan Putri pada 8 November 2017 yang lalu. Ya, putri mahkota satu-satunya dari orang nomor satu di “kampungku” itu. Kini ia tak hanya jadi buah bibir semata, bahkan jadi buah dada dikalangan anak muda yang lagi nge-trend di era millenial yang tak terikuti itu.

Berkaca pada Pilkada Kota Medan lima tahun silam, masyarakat sebenarnya sudah sampai pada titik kulminasi jenuhnya. Krisis kepercayaan pada figure plus pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan menangnya kotak kosong alias “Golput” pada kontestasi pilkada 2015 yang lalu. lebih dari 70% Pemilih memilih untuk tidak memilih. Sedang pemililh yang menggunakan hak suaranya bahkan tidak mampu menyentuh angka 30% dari jumlah total pemilih. Ini pekerjaan berat bagi Parmarga Nasution itu. Sekaligus pekerjaan paling mulia bagi seluruh stake-holder khususnya KPU dan Bawaslu untuk meningkatkan partisipasi pemilih, berperan aktif bukan hanya sebagai penyelenggara yang melakukan sosialisasi paling menjenuhkan yang “itu-itu saja”. Lebih dari itu, mengawal dan menjaga demokrasi kita yang sudah sakit hati dan setengah hati.

Ahyar sebagai Nasution Senior diduga kini tersandera dilema pula. Beberapa hari yang lalu satu per satu dengan jajarannya yang lain dipanggil aparat penegak hukum untuk ditanyai atas beberapa hal dan lain sebagainya. Belum lagi resistensi dari partai PDI Perjuangan yang pernah mengantarkannya itu pada waktu yang lalu. Ini akan menjadi cacatan kaki baginya untuk melangkah lebih jauh lagi dan bagi warga kota medan yang mesti digarisbawahi sebagai upaya memutus mata rantai problem yang “itu-itu” saja. Ahyar adalah kader (PDIP) lama, berpengalaman dipemerintahan karena sudah bertahun-tahun menjadi legislator. Dia juga pasti mengetahui kultur khas kota medan. Dengan jabatannya sebagai incumbant maka harusnya posisinya cukup kuat untuk maju ke pilkada. Tapi sekarang dia tetiba saja sedang gundah gulana beberapa waktu yang lalu dipanggil Polda. Ada dugaan sementara pihak ini adalah upaya kriminalisasi politik terhadapnya agar terganjal untuk melangkah selanjutnya.

Sebaliknya Bobby adalah benar-benar wajah baru, boleh dikata minim pengalaman. Hanya saja memiliki keistimewaan koneksi ke pusat pemerintahan di Ibukota. Hal itu terkesan negatif, namun sesungguhnya bisa menjadi nilai tambah positif bagi kemajuan Kota Medan nantinya. Soal Junioritasnya bisa saja menjadi umpan balik yang baik di mata masyarakat. Toh, Kota Medan ini begini-begini saja ditangan para pejabat senior yang katanya berpengalaman itu. Mungkin saja ditangan orang yang betul-betul baru suasana Kota ini bisa jadi berubah lebih baik. Kongkritnya Bobby menawarkan nuansa baru yang berbeda dari yang mainstream.

Medan sekali ini hanya urusan sesama “Nation” (Baca:Nasution). Salah satu diantara ke-duanya mesti ada yang “out the boat” dari partai bernama PDIP. Pilihan untuk ke-duanya adalah bertarung habis-habisan dipartai itu atau membuat sekoci kepartai lain. Ahyar menurut logika karir politiknya memang mesti maju, karena hanya jabatan itu yang tersedia untuk dirinya. Sudah hal lumrah untuk seorang incumbent maju untuk periode ke-dua. Sebaliknya Bobby tak punya kesempatan sebaik dan se-emas sekarang ini jika ingin maju di pilkada. Lima tahun lagi situasinya mungkin sudah jauh berbeda. Maka bagi dia sekarang adalah waktu yang paling tepat.

Sekali lagi ini adalah pertarungan saling menegasikan satu sama lain. Bukan saja di saat pemilihan nanti, tapi juga sejak dini didalam partai Banteng itu. Atau mungkin sejak dari Himpunan Keluarga Mandailing (HIKMA) Kota Medan. Pertarungan ini jika dipandang secara holistik maka sejatinya adalah adu gaya dan gagasan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan daerah. Dengan demikian semua hal itu sah-sah saja sepanjang dilakukan secara fair. Seperti perumpamaan yang mashur di selatan, “rukrek ni parahu, mur tu rapotna”, bisingnya dinamika politik itu (seharusnya) untuk menemukan kebaikan di ujungnya.

Nun di Alam Barzakh Jendral Nasution boleh berbangga bahwa kahanggi semarganya masih tetap mengabdikan diri bagi ini negeri. Selamat berjuang, semoga proses menuju suksesi pilkada medan 2020 berjalan lancar, aman dan damai. Yang tua dan berpengalaman mesti bijak, yang muda dan energik terus berkarya.

Salam Hangat saya
Perkumpulan Gerakan Kebangsaan
Hendra Hidayat

Comments
To Top