BATUBARA

Lestarikan Budaya Tradisi Melayu, Pengrajin ini Kenalkan Tengkuluk ke Pengunjung Pesta Tapai

BATUBARA, akses.co – Budaya dan Tradisi Melayu saat ini harus kembali diperkenalkan dan dilestarikan, terutama dikalangan pemuda. Kiranya aset budaya dan tradisi Melayu tidak hilang begitu saja ditelan zaman.

Yang mana salah satu tradisi tersebut dengan mengenakan tengkuluk ‘bertanjak’ sebuah penutup kepala mencirikan identitas kemelayu seseorang.

Untuk itulah Ridwan Amsal R seorang pemuda dari salah satu pengrajin di Kabupaten Batubata perkenalkan Tengkuluk ‘Bertanjak’ kepada Pengunjung Pesta Tapai (pagelaran tahunan menyambut bulan suci Ramadhan).

“Tujuan memperkenalkan tengkuluk ini dengan menjajahkannya ke pengunjung Pesta Tapai adalah untuk melestarikan budaya tradisi Melayu. Karena kita lihat saat ini masyarakat Batubara khususnya kaum muda millenial, hampir tidak mengetahui apa itu yang namanya tengkuluk,” kata Amsal menjawab akses.co di Pagelaran Pesta Tapai di Desa Mesjid Lama Kecamatan Talawi. Sabtu malam, (27/03/2021)

Selain itu Amsal juga mengutarakan bahwa, pascapagelaran Pesta Tapai yang tiap tahunnya sebulan sebelum bulan Ramadhan diadakan di Pesisir Kabupaten Batubara adalah momentumnya untuk mengenalkan sekaligus menjajahkan Tengkuluk kepada masyarakat sekitar, bahkan pengunjung yang berasal dari luar Kabupaten Batubara.

Dikatakannya asal muasalnya ia ingin melestarikan Tengkuluk itu bermula dari Kegiatan ‘Gema Batubara Bertanjak’ yang diadakan di Istana Niat Lima Laras Kecamatan Nibung Hangus (16/09/20) lalu. Dan disitu pulalah viral dan mulai bermunculan pengtrajin Tengkuluk.

“Alhamdulillah semenjak terlaksananya Hari Bertanjak kemaren (red) disitulah bumingnya Tengkuluk itu tadi. Dan masyarakat pun sedikit demi sedikit memahami adat budaya tradisi Melayu. Dan disitu pulalah bertambahnya minat masyarakat untuk memesan dan membeli tengkuluk ini tadi,” jawab Amsal lagi.

Selain itu pula Amsal juga juga mencetuskan bahwa, tengkuluk yang ia jajakan itu dihargai kisaran Rp. 100.000 dengan lebel Tengkuluk PAMULARA Abah Hisyam.

Bukan hanya sampai disitu saja, bukan main niatnya untuk melestarikan dan mengenalkan Tengkuluk ‘Bertanjak’ itu kemasyarakat, dihari senggangnya ia jajakan kerumah-rumah warga bahkan di akhir pekan juga ia jajakan di tempat wisata Pantai Sejarah Desa Perupuk Kecamatan Lima Puluh Pesisir yang juga tempat letaknya Museum Kabupaten Batubara.

Pantauan wartawan dilokasi Pesta Tapai, bukan hanya pemuda dan orang tua, memakai Tengkuluk ‘Bertanjak’, kini juga kian dinikmati oleh anak-anak untuk dipakai kesehariannya bak seorang Hang Tuah di masa kejayaan Kerajaan Melayu.

Melestarikan kebudayaan tradisi adat istiadat merupakan tanggung jawab kita sebagai penerus keturunan suku sakat anak Melayu.

Untuk itu sebagaimana diketahui, dilansir dari laman Kemendikbud Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau bahwa, setidaknya ada 21 jenis (model) tanjak ‘tengkuuk’ Melayu, antara lain lang melayang, lang menyongsong angin, dendam tak sudah, balung ayam, cogan daun kopi, pucuk pisang, mumbang belah dua, sarang kerangga, ayam patah kepak, kacang dua helai daun. Ada lagi jenis sekelongsang bunga, belalai gajah, setanjak balung raja, ketam budu, solok timba, pari mudek, dan buana.

Dalam alam Melayu untuk tutup kepala itu terbagi menjadi enam jenis yakni, getam, tanjak, tengkolok lelaki, tengkolok perempuan, dan songkok semutar. (firs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Terdeteksi

Mohon maaf Adblock terseksi di Browser ini, mohon dukung akses.co untuk tetap konsisten memberikan berita terupdate dengan mengizinkan iklan untuk selalu tampil, terima kasih.