NEWS

Lahan Sawitnya Dikuasai Orang Janda Asal Labuhan Batu Ngadu ke DPRD Sumut

MEDAN, akses.co – Kisah pilu yang dialami seorang Janda berparas ayu, bernama Nadimah (56), warga Jalan Cik Diktiro, Kelurahan Rantau Prapat, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu, akhirnya, sampai ke DPRD Sumatera Utara, Kamis (6/8/2020).

Dalam RDP di Komisi A DPRD Sumut, dari keterangan Nadimah mengatakan, eksekusi lahan kebun sawit yang diberikan oleh Yohana yang merupakan pemilik PT Cisadane Sawit Raya dikuasai oleh orang lain.

Lahan sawit milik Nadimah yang berolakasi di Jalan Wakaf Lingkungan Perdamean Sepakat, Kelurahan Perdamean, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhan Batu, Sumut, dikuasai Nadimah sejak tahun 1985, akunya.

Diceritakannya lebar, lahan yang dikuasai oleh orang lain itu, ketika suaminya bernama Suratman meninggal dunia pada Tahun 2014 silam. Setelah suaminya meninggal dunia, lahan yang diberikan oleh PT Cisadane Sawit Raya kepada suaminya, Suratman mulai dikuasai oleh Maswandi dan Haris Suwando.

“Lahan itu dulu masih kosong. Awalnya itu, lahan milik PT Cisadane Sawit Raya yang dikelolah oleh Yohana diberikan kepada suami saya. Pemberian itu, dulu di hadapan saya bersama almarhum, Niko yang merupakan asisten kepercayaan Ibu Yohanan,” ujar Nadimah kepada dihadapan wartawan di DPRD Sumut Jalan Imam Bonjol Medan.

Selanjutnya, Nadimah mengatakan, pihaknya bersama suaminya mulai menguasai lahan yang diberikan oleh Yohana itu sejak tahun 1990. Mereka sudah mulai merawat kebun sawit di atas lahan seluas 20 hektar tanpa ada pihak manapun yang keberatan.

Lalu, hasil kebun sawit tersebut sudah menjadi milik keluarga Nadimah. Bahkan, katanya, masyarakat sekitar kebun sawit tersebut mengetahui bahwa kebun sawit itu milik almarhum Suratman yang merupakan suami Nadimah.

“Sudah milik kami Pak, hasil kebun sawit itu setelah kami rawat bersama suamiku dulu sudah milik kami. Masyarakat sekitar juga sudah mengetahui lahan tersebut milik kami yang diberikan oleh Yohana yang merupakan milik PT Cisadane Sawit Raya,” sebutnya.

Sambungnya lagi, pada Tahun 1984 suami Nadimah bernama Suratman sebelumnya dia di Jakarta. Lalu, Suratman ditugaskan oleh Yohana untuk mengerjakan lahan sawit tersebut. Suratman itu, masih status pekerjaan baru yaitu pengerjaan pembibitan lahan sawit lebih kurang seluas 8000 hektar.

Karena suaminya Suratman bekerja lama, kata Nadimah, berjasa dalam pembukaan perkebunan tersebut. Sehingga Yohana memberikan Jasa Suratman dengan memberikan lahan, rumah dan mobil kepada suaminya.

“Suami saya baik bekerja sama Yohanan. Jasa suami saya itu, diberikan Yohana lahan tanah yang sudah ada sawit, diberikan lagi rumah dan mobil kepada suami saya,” kata Nadimah bercerita lebar.

Nadimah menjelasakan, pada tahun 2014 suaminya meninggal dunia, sejak saat itu kebun sawit tetap dia kuasai dan dikelolah oleh pihaknya. Hasil dari pengelolaan itu, pihaknya menggunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Nah, pada bulan Mei 2018 ada beberapa mendatangi lokasi kebun tersebut untuk digarap kembali. Kedatangan yang menggarap lahan sawit itu, bernama Maswadi dan Haris Suwando, mereka menawarkan kerjasama pemupukan kebun sawit tersebut dengan bagi hasil kepada Nadimah.

Lama kelamaan, Maswandi meminta kepada Nadimah untuk menyerahkan kebun tersebut dengan cara ganti rugi, sembari Maswandi meminta agar Nadimah membuat surat permohonan dengan diberikan ganti rugi sebesar Rp 1 Miliar. Permintaan itu, ditolak oleh Nadimah, meskipun Maswandi membujuknya akan mengirim uang sebesar Rp 3 Juta.

“Mereka bujuk saya biar diganti kerugian kami di kebun sawit yang diberikan kepada kami itu. Saya tolak permintaan itu, pada bulan Juni 2018 melihat sejumlah anggota Brimob dan beberapa pekerjaan dilahan sawit tersebut. Mereka mengakui yang menyuruh mereka di lahan sawit itu, Haris Suwando dan Maswandi,” katanya nada terisak.

Atas permasalahan inilah, saya datang ke DPRD Sumut minta perlindungan hukum kepada anggota Dewan, Nadimah juga minta perlindungan hukum melalui kantor hukum Ranto Sibarani, SH dan Rekan, pada tanggal 6 Mei 2020. Pada tanggal 6 Juni 2020, memberikan dua kali somasi kepada Haris Suwando agar mengembalikan kebun tersebut. (Han)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat Juga
Close
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker