Beranda INSPIRASI Musa Rajekshah, Keturunan Hafidz Al-Quran, Mencintai dan Dicintai Ulama (1)

Musa Rajekshah, Keturunan Hafidz Al-Quran, Mencintai dan Dicintai Ulama (1)

BERBAGI
Musa Rajekshah Bersama Ulama di Kabanjahe, Karo. (dok/akses.co)
Musa Rajekshah Bersama Ulama di Kabanjahe, Karo. (dok/akses.co)

akses.co – Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Dulu seorang Hafidz Al-Quran, Gulrang Shah, menjalin kerabat dengan Syekh Abdur Rahman Silau Laut di Asahan, maka demikian jugalah cucu-cucu mereka. Cucu Gulrang Shah, Musa Rajekshah, dan cucu Syekh Abdurrahman Silau Laut yaitu Ustadz Abdul Somad yang kini begitu mahsyur, melakoni hubungan yang kental.

Musa Rajekshah, akrab dipanggil Ijeck, pun hidup dalam bingkai keislaman yang sungguh kuat: menghormati dan mencintai ulama, warits al-anbiya.

Kakek Ijeck, Gulrang Shah, mengajarkan keislaman sembari memerkuat basis perekonomian umat Islam yang waktu itu masih dijajah Belanda dan kemudian Jepang. Jejak al-Hafidz Gulrang Shah kemudian begitu deras membanjiri sosok pemuda yang masih lagi berumur 44 tahun itu. Melalui yayasan yang didirikan ayahnya, H Anif Shah, program membersihkan masjid di seluruh Sumatera Utara, telah digagas dan dikerjakan sejak 2004 lalu. Program itu telah sedemikian lama dan berjalan rutin. Saking rutinnya, program itu dianggap biasa dan hanya menarik minat segelintir media untuk memberitakan. Namun, sejak pentas pemilihan kepala daerah (pilkada) Sumut 2018 ini digulirkan, sontak program itu diperhatikan orang kembali, menarik minat untuk dibicarakan. Pertanyaan utamanya: mengapa keluarga Musa Rajekshah melakukan itu?

Jawaban untuk itu ternyata tidak sesederhana sebuah frasa: kepedulian terhadap kebersihan masjid. Ternyata, jawaban untuk itu bisa ditelusuri dari sejarah panjang keluarga ini. Seperti yang ditulis di awal, jejak al-Hafidz Gulrang Shah mengalir deras dalam dua dimensi yang bertaut: keislaman dan ekonomi umat. Sejak lahir, Ijeck boleh dikatakan telah hidup dalam dua dimensi itu.

Musa Rajekshah dengan ulama di Simalungun.
Musa Rajekshah dengan ulama di Simalungun.

Dimensi Islam dan Ekonomi Umat
Di awal-awal pertumbuhannya, Ijeck yang lahir di Medan pada 1 April 1974 ini, kemungkinan tak paham benar mengenai dimensi yang hidup dalam lingkungan dirinya itu.

Misalnya, sejak kecil dia punya hobi mengendarai mobil dan sepeda motor besar. Bukankah akan ada saja orang yang menafsir: dimanakah letak perbedaan antara mobil dan sepeda motor dengan anjuran nabi Muhammad tentang mengendarai kuda? Yang jelas, tak ada yang menyangkal kalau Ijeck telah cukup ahli mengendarai kendaraan modern itu. Dia lantas diangkat menjadi Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Sumut.

Jangan lupa pula, Ijeck juga berlatih memanah dalam bentuk yang konvensional maupun bentuk modern yaitu menembak. Hinggalah ia mahir dan kemudian menjadi Pengurus Daerah Persatuan Menembak Indonesia (Pengda Perbakin) Sumatera Utara. Seperti yang diketahui, memanah merupakan anjuran nabi.

Ijeck saat didaulat memberikan sambutan usai subuh berjamaah.

Tak cuma itu. Ijeck melakoni dagang, bisnis, sebuah pekerjaan nabi yang dilakukan melintas batas-batas wilayah negara pada waktu itu. Bertemu dengan banyak orang, menghitung secara detail potensi keuntungan dan kerugian, mengatur pola komoditi barang dan tentu saja yang terpenting adalah meneliti secara tidak langsung hasrat manusia tentang harta, emas, dan sisi finansial yang sering membuat orang-orang lupa.

Ijeck terus berjalan dalam dimensi ekonomi. Dia pun tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Sumut. Dalam sebuah kesempatan, Ijeck bahkan berinovasi dalam agribisnis dengan menanam 450 batang kurma tropis di Tiga Juhar, Deliserdang. Anda pasti tahu kalau nabi Muhammad suka benar mengkonsumsi kurma.

Bagaimana dimensi keislaman ini begitu kuat melingkari kehidupan Ijeck? Ikuti artikel-artikel selanjutnya. (rih)

Comments

Komentar