Beranda INSPIRASI Melihat Tradisi Bubur Anyang Khas Ramadan di Masjid Jamik Silalas

Melihat Tradisi Bubur Anyang Khas Ramadan di Masjid Jamik Silalas

BERBAGI
Petugas Masjid Jamik Silalas tengah menyiapkan bubur anyang untuk disantap berbuka puasa.
Petugas Masjid Jamik Silalas tengah menyiapkan bubur anyang untuk disantap berbuka puasa.

Boleh Dibawa Pulang, Anyang Pakis Diganti Anyang Tauge

akses.co – Masjid Jamik Silalas yang terletak di Kecamatan Medan Barat No. 1 Kota medan Sumatera Utara berbatasan dengan Sungai Deli dan Jalan H Adam Malik memiliki tradisi berbuka puasa dengan menu makanan bernama bubur anyang. Tradisi ini sudah berlangsung sejak pertama Masjid Jamik dibangun pada 1847.

Uniknya, bubur anyang itu juga dibagi-bagi ke masyarakat yang ingin menikmatinya di rumah masing-masing. “Awal ide bagi-bagi bubur anyang di bulan Ramadhan ini hasil dari rundingan kenajiran masjid yang terdahulu,” kata Pengurus Masjid Jamik Silalas, H Hasan Nurdin Rangkuti, saat ditemui, kemarin.

Menurutnya, sudah menjadi tradisi selama bulan Ramadan masjid ini menyiapkan santapan bubur anyang untuk dibagikan ke masyarakat secara gratis dengan membawa tempat masing-masing bisa berupa rantang, mangkuk, bahkan baskom sekaligus. Pengurus masjid ini juga menyiapkan bubur anyang sebagai takjil berbuka puasa yang bisa dinikmati di masjid.

Dia menjelaskan, pembuatan bubur tersebut di kerjakan di sekitar kawasan Masjid yakni di rumah Ibu Ika seorang yang ahli dalam pembuatan bubur. Dia mengatakan dalam sehari mereka mengantar 3 tong ke masjid, 2 tong berisi bubur anyang dan 1 tong air. “Setiap hari diantar pukul 16.00 WIB. Jadi setelah Ashar, di sini sudah banyak yang antre ambil bubur,” katanya.

Rangkuti menambahkan, santapan bubur anyang ini berasal dari sejumlah donatur. Penyumbang terbesar dari keluarga H.Anif, yang juga dikenal sebagai Ketua Dewan Penyantun UIN Sumatera Utara. “Kami mengirimkan proposal diserahkan ke masyarakat. Siapa yang mau bantu silakan,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam sehari bubur bisa dibagikan untuk sekitar 400 orang. Untuk di Masjid sekitar 150 porsi dan selebihnya dibagikan ke warga yang bisa mengambil dengan membawa tempat masing-masing dan dibawa pulang.

Rangkuti menambahkan, dulunya bubur ini memakai anyang pakis sebagai pelengkap. Tapi karena orang-orang tua banyak mengeluh karena muncul penyakit karena mengonsumsi sayur pakis, anyang pakis itu pun diganti anyang tauge. Diketahui, sayur pakis memang lebih cepat memicu asam urat atau kolesterol. Bubur anyang Masjid Jamik Silalas ini memang khas, selain dimakan dengan anyang pakis, bubur ini juga dimasak dengan campuran daging kambing.

Beberapa warga yang ikut berbuka puasa di Masjid Jamik ini tidak hanya warga sekitar kampung silalas, namun ada yang dari Kelambir Lima Medan. “Sejak dulu memang saya sering berbuka puasanya di Masjid Jamik ini, tempatnya adem apalagi dekat dengan kuburan yang dapat mengingatkan kematian. Bubur anyang ini menurut saya gurih apalagi dulu sayur pelengkapnya anyang pakis, kesukaan saya. Tapi sekarang diganti tauge dan saya tetap suka karena saya penggemar bubur,” jelas warga Klambir Lima, Syafitri Ana.(*)

Penulis: Dede Handayani Tarigan, Mahasiswa Semester VI Jurnalistik, IKom UINSU

Comments

Komentar