Beranda INSPIRASI Cerita Lama soal Penang Serasa di Medan karena Urusan Kesehatan

Cerita Lama soal Penang Serasa di Medan karena Urusan Kesehatan

BERBAGI
foto ilustrasi.
foto ilustrasi.

Mendarat di Pulau Pinang (Penang), Malaysia, Selasa (12/12/2017), saya merasakan suasana yang mirip dengan Kota Medan. Situasi jalan raya dari bandara menuju penginapan di kawasan Pangkor, macet-macet juga walau tak lama. Sampainya di penginapan, saya malah bertemu penduduk Padangbulan, warga Medan Johor, dan warga Padangsidimpuan. Lha ini apa….?

Penginapan saya itu berada di belakang Gleneagles Hospital, Penang. Rumah ini ternyata, menjadi tempat pilihan bagi orang Indonesia khususnya Sumatera Utara yang berobat di Gleneagles, Penang. Saya sendiri ke penginapan itu bersama abang yang juga sedang menjalani rawat jalan di rumah sakit tersebut.

Penginapan ini tak ada mereknya. Hanya saja, penjaga penginapan ini cukup dikenal akrab semua orang yang menginap di situ. Bu Sar namanya, orang Indonesia Timur. Dia cukup ramah. Dengan logatnya yang khas, dia sangat akrab dengan semua penghuni di sana. Dari cerita singkat, diketahui hampir semua yang menginap saat itu adalah orang Medan atau Sumatera Utara. “Semuanya datang untuk berobat,” kata Bu Sar.

Di penginapan itu, saya bertemu Ibu Sembiring, orang Kabanjahe, yang sudah menetap di Bandung beberapa tahun terakhir. Beliau check-up hasil operasi tulang panggulnya beberapa waktu lalu. Kemudian, ada Pak Ginting, warga Medan Johor, yang menjalani pengobatan ginjalnya. Lalu saya juga bertemu dengan Nyonya Sinaga, warga Padangsidimpuan, yang tengah menjalani proses perobatan kanker yang dideritanya. Saya juga bertemu dengan B Manik, pensiunan PNS, yang menjalani penyembuhan setelah menjalani operasi retina matanya yang lepas.

“Saya tak pernah berobat di Medan, langsung di sini. Di tempat kita itu belum apa-apa sudah dikasi obat. Kalau di sini, obat tidak akan diberikan, tanpa hasil tes darah dan uji laboratorium lainnya,” kata Nyonya Sinaga.

Ibu Sembiring, mengaku dia pernah berobat di Medan, tapi tidak ada perkembangan. Dia pun memilih ke Penang untuk menjalani perobatan pengeroposan tulang panggulnya. “Hasilnya bagus di sini. Kalau soal biaya, di Medan sudah pasti lebih murah pakai BPJS. Tapi kalau pasien umum, saya pikir sama saja,” bebernya.

Di hari pertama di Penang itu, saya juga bertemu Bapak Karokaro, warga Padangbulan. Dia menjalani perobatan tulang pahanya yang rapuh, terkena virus dan terindikasi kanker tulang. “Tadi saya baru siap disinar (sinar X Ray). Kemarin sudah pernah dioperasi. Ini proses penyembuhan. Mudah-mudahan baik hasilnya,” katanya.

Fenomena orang Sumut berobat ke luar negeri, khususnya Malaysia, ternyata belum berakhir, kalau pun tak ingin dikatakan jumlah orang yang berobat masih tinggi. Dari beberapa orang yang saya tanya itu, muncul kesan keinginan berobat ke Penang itu karena proses pelayanan medis yang baik. Soal biaya, itu urusan lain.

Belum lagi, adanya andil orang-orang seperti Bu Sar yang tidak hanya berperan sebagai penyedia penginapan selama proses perobatan, tapi juga membantu memasakkan makanan, memesan grab, hingga mengatur janji konsultasi antara dokter di Malaysia dan pasien yang masih di Medan.

Menjelang sore, saya menumpang grab yang dikendarai Pak Kamsan bin Ahmad. Dalam perjalanan dia menyebut banyak orang Medan selalu datang ke Penang setiap minggu. “Berobat di sini. Orang Medan banyak duitlah,” katanya.

Mendengar ini, saya pun mencoba berapologi dan mendukung pernyataannya itu. “Karena katanya di sini pelayanan rumah sakit lebih baik pak. Gak seperti di Medan,” kata saya.

Lalu Pak Kamsan pun berucap. “Di Medan, nanti juga baik itu (pelayanan medisnya),” tukasnya. Iyalah pak. Semoga harapan bapak dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa. (#)

Fakhrur Rozi
Dewan Redaksi Akses.co

Comments

Komentar