Beranda EKBIS Menperin: Indonesia Akan Masuk Lima Besar Ekonomi Terkuat Dunia

Menperin: Indonesia Akan Masuk Lima Besar Ekonomi Terkuat Dunia

BERBAGI
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. (foto istimewa)
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. (foto istimewa)

akses.co – Dalam 100 tahun merdeka, Indonesia berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian dunia kedepannya. Salah satunya ditopang melalui kinerja gemilang dari industri nasional.

Peluang besar tersebut, juga didukung dengan adanya masa emas, yaitu bonus demografi atau peningkatan jumlah penduduk usia produktif pada tahun 2020-2030.

“Sehingga nanti pada 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045, Insya Allah Indonesia akan masuk lima negara ekonomi terbesar di dunia,” papar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui siaran pers yang diterima akses.co, Selasa (10/04/2018).

Berdasarkan hasil riset salah satu penyedia jasa auditor besar di dunia, PricewaterhouseCoopers (PwC), posisi perekonomian Indonesia di peringkat ke-5 dunia diprediksi lebih cepat pada tahun 2030 dengan estimasi nilai Produk Domestk Bruto (PDB) USD 5,424 miliar.

Sementara tahun 2050, peringkat ekonomi Indonesia bakal naik menjadi ke-4 dunia dengan perkiraan nilai PDB USD10,502 miliar yang dihitung melalui metode Purchasing Power Parity (PPP). Menurut riset PwC ini, Indonesia dinilai sebagai big emerging market karena merupakan negara dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara.

“Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya perlu perjuangan dan kerja keras. Sehingga, optimisme harus didorong oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” ungkap Menperin.

Oleh karenanya, melalui peta jalan Making Indonesia 4.0, Indonesia telah memiliki strategi dan arah yang jelas dalam upaya meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional di tengah memasuki era digital.

Salah satu langkah awal yang sudah dijalankan, Kementerian Perindustrian turut memacu kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) lewat peluncuran program pendidikan vokasi industri di beberapa wilayah di Indonesia. Dengan mengusung konsep yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan dengan industri yang diharapkan dapat mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia industri.

“Guna menggenjot daya saing industri, harus didukung dengan pendidikan, terutama kompetensi tenaga kerjanya. Kemudian, diperlukan kegiatan untuk menciptakan inovasi dan menerapkan teknologi terkini, di mana dua hal tersebut sangat ditopang oleh pendidikan dan dana untuk melaksanakan itu,” ungkapnya.

Airlangga menambahkan, saat memasuki momentum bonus demografi, beberapa negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Misalnya, Jepang yang mampu tumbuh 5,5%, China 9,2%, Singapura 7,3% dan Thailand 4,8%.

“Untuk itu, kita harus manfaatkan peluang emas tersebut. Kita bisa petik hasilnya pada tahun 2030,” ujarnya.

Menperin meyakini, implementasi Industri 4.0 dapat mengakselerasi target visi Indonesia emas 2045. Perbaikan ekonomi di Tanah Air, juga terlihat dari empat aspek selama 15 tahun terakhir.

“Saat ini, Indonesia telah masuk one trillion dollar club,” ujarnya.

Pertama, populasi tenaga kerja meningkat lebih dari 30 juta, yang ditopang dengan naiknya gaji sebesar dua kali lipat. Kedua, pertumbuhan konsumsi meningkat pula delapan kali lipat, di mana saat ini menyumbangkan 55 persen dari PDB.

“Ketiga, aspek investasi kita pun luar biasa peningkatannya, naik 13 kali lipat, yang juga mengalami peningkatan terhadap penyumbangan ke PDB dari 22 persen menjadi 34 persen. Terakhir, kita lihat dari kapitalisasi pasar bursa meningkat 15 kali lipat, kini kapitalisasinya mencapai USD500 miliar,” jelasnya.

Maka itu, lanjut Menperin, stabilitas politik dan keamanan menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Selanjutnya, peningkatkan level pendidikan turut menjadi jawaban bagi kebutuhan industri nasional dalam memiliki SDM kompeten sesuai perkembangan saat ini menghadapi era Industri 4.0.

Untuk penerapan awal Industri 4.0, Indonesia akan berfokus pada lima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektonik.

“Sektor ini dipilih setelah melalui evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB, perda­gangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi dan kecepatan penetrasi pasar,” pungkasnya. (din)

Comments

Komentar