Beranda EKBIS Ekonomi Indonesia di 2018 Diselimuti Pesimisme

Ekonomi Indonesia di 2018 Diselimuti Pesimisme

BERBAGI
Ketua Komisi VII DPR, Gus Irawan Pasaribu. (ist)
Ketua Komisi VII DPR, Gus Irawan Pasaribu. (ist)

akses.co – Ekonomi Indonesia tahun depan diprediksi tidak akan lebih baik dari kondisi sekarang karena diliputi pesismisme atas melesetnya sejumlah target pemerintah, kata Gus Irawan Pasaribu.

Ketua Komisi VII DPR-RI itu mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan melalui sambungan telefon, Selasa (26/12), sebagai proyeksi atas ekonomi Indonesia tahun depan dan flashback 2017. Dia menyimpulkan ekonomi Indonesia tahun depan tidak akan lebih baik dari tahun ini didasarkan pada berbagai faktor dan asumsi yang terjadi.

“Pertama harus kita lihat fundamental ekonomi Indonesia masih lemah sekali. Belanja pemerintah untuk infrastruktur yang jor-joran ternyata tidak ngefek pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Menurutnya, jika pemerintah memicu pembangunan infrastruktur harusnya ada penguatan pada pertumbuhan ekonomi. Namun faktanya tidak. “Kita harus lihat bahwa setiap kali ada pembangunan baik itu bagian dari government expenditure atau pun investasi swasta harus mendorong pertumbuhan,” ujar Gus.

Memang, kata dia, harus diakui bahwa pemerintah kelihatan sangat gencar membangun infrastruktur. Secara teori, infrastruktur dapat mempercepat aktivitas ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan, namun kenyataannya tidak begitu. “Saya ambil data dari pusat kajian LPEM FEB UI, saat alokasi anggaran infrastruktur di 2017 meningkat 177% dari anggaran 2014, pertumbuhan ekonomi di 2017 hanya meningkat sedikit,” terangnya.

Menurut kajian itu, jelas Gus Irawan, penciptaan lapangan kerja yang disebut-sebut sebagai dampak positif yang timbul dari belanja infrastruktur dan konstruksi juga belum terlihat. Rendahnya investasi sektor swasta, baik di sektor infrastruktur maupun sektor lainnya, akibat dominannya peran perusahaan milik negara, membuat pertumbuhan investasi secara keseluruhan tidak maksimal. Hal ini dapat berdampak negatif pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi selama sisa pemerintahan Jokowi.

Atas dasar itu Gus Irawan beranggapan pembangunan yang dilakukan tidak berdampak maksimal pada pertumbuhan. Kemudian program ekonomi Indonesia dengan membuat paket yang berjilid-jilid dan disusun tahun demi tahun sama sekali tidak bermakna. Intinya paket yang berjilid-jilid harus dievaluasi pelaksanaannya dan bagaimana efeknya terhadap pertumbuhan.

“Saya menilai paket tersebut tidak bermakna sebagai pendorong penguatan fundamental ekonomi,” tuturnya.

Selain menyoroti pertumbuhan, Gus Irawan yang juga Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPR-RI mengatakan satu hal yang harus dicermati 2018 sebagai tahun politik. “Penuh dengan unsur politik. Akan lebih banyak kebijakan populis yang dikeluarkan pemerintah,” ujarnya.

Dia menyamakan program keluarga harapan dengan bantuan langsung tunai yang dulu banyak dikritik. “Yang beda tempat pengambilannya saja. Program keluarga harapan sekarang diambil di bank melalui rekening penerima. Kalau BLT dulu kita lihat orang ramai-ramai ke kantor pos,” tambah Gus Irawan. (rur/rel)

Comments

Komentar