Beranda EKBIS Dongkrak Ekspor, Pemerintah Kucurkan Fasilitas Pembiayaan

Dongkrak Ekspor, Pemerintah Kucurkan Fasilitas Pembiayaan

BERBAGI
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan. (akses.co/istimewa)
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan. (akses.co/istimewa)

akses.co – Mengantisipasi trend perekonomian dunia yang cenderung melemah, pemerintah memiliki cara dengan berupaya mendongkrak ekspor untuk menjaga dan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dilakukan melalui dua cara diantaranya peningkatan nilai ekspor dan investasi di sektor produktif seperti industri manufaktur. Dukungan kebijakan dibutuhkan untuk mewujudkan hal tersebut, sesuai arahan Presiden Joko Widodo kepada para menteri di Kabinet Kerja agar terus bersinergi untuk memacu ekspor Indonesia.

“Terkait ekspor, Indonesia masih mampu membawa produk-produk industrinya menembus pasar internasional, terutama menuju pasar-pasar yang belum pernah dijajaki sebelumnya atau pasar non-tradisional seperti Kawasan Afrika dan Amerika Latin,” jelas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara di Jakarta beberapa waktu lalu melalui siaran pers yang diterima akses.co, Selasa (6/02/2018).

Pertumbuhan ekonomi nasional saat ini ditopang oleh sektor industri yang terus menggeliat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan merupakan sektor andalan dalam menyumbang nilai ekspor Indonesia. Di 2017, nilai ekspor industri pengolahan sebesar USD125 miliar. Angka tersebut memberikan kontribusi tertinggi hingga 76 persen dari total nilai ekspor Indonesia yang mencapai USD168,73 miliar.

Trend peningkatan industri setidaknya terlihat dalam lima tahun terakhir. Dalam periode lima tahun (2012-2016), peran produk industri terus meningkat dalam komposisi ekspor Indonesia. Pada tahun 2012, ekspor produk industri sebesar USD118,1 miliar atau sekitar 62,2 persen dari total ekspor Indonesia yang mencapai USD 190,0 miliar. Sementara tahun 2016, porsi ekspor produk industri sebesar USD109,7 miliar atau mengalami peningkatan menjadi 75,6 persen terhadap total ekspor Indonesia yang mencapai USD145,2 miliar.

“Capaian tersebut mengindikasikan bahwa produk industri merupakan tulang punggung dan memiliki peranan sangat penting dalam porsi ekspor Indonesia,” ungkap Ngakan.

Untuk menjaga prospek sektor industri yang kian bergairah, Kemenperin selaku anggota Komite Penugasan Khusus Ekspor (PKE) terus berupaya menyiapkan fasilitas pembiayaan ekspor sebagai salah satu strategi mendorong peningkatan ekspor produk industri nasional.

“Tantangan yang dialami oleh industri dalam negeri untuk melakukan penetrasi ke pangsa pasar ekspor adalah daya saing produk, terutama dari sisi persaingan harga,” papar Ngakan.

Ngakan menambahkan beberapa negara seperti China, telah memberikan dukungan pembiayaan kepada industrinya yang berorientasi ekspor, sehingga dapat meningkatkan daya saing dari sisi harga di negara tujuan ekspor. Oleh karena itu, sejak tahun 2015, Pemerintah Indonesia meluncurkan program penugasan khusus ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). yang bertujuan untuk menyediakan dukungan pembiayaan kepada pelaku usaha yang melakukan ekspor.

“Adapun bentuk fasilitas pembiayaan ekspor tersebut meliputi pembiayaan, penjaminan dan asuransi,” papar Kepala BPPI itu.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya juga mendorong pelaku IKM agar bisa menangkap peluang pasar di era ekonomi digital dan Industry 4.0 dengan memanfaatkan perkembangan teknologi manufaktur terkini.

“Kami telah meluncurkan program e-Smart IKM, pada awal tahun 2017. Salah satu tujuannya adalah meningkatkan akses pasar melalui internet marketing,” ungkap Airlangga.

Kemenperin telah melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan beberapa marketplace dalam negeri di antaranya Tokopedia, Blibli, Shopee, Bukalapak dan Blanja.
Sepanjang tahun 2017, tercatat lebih dari 1730 pelaku usaha yang telah gabung dalam program e-Smart IKM dari 23 provinsi. Di 2019, ditargetkan akan mencapai 10 ribu pelaku IKM seluruh Indonesia.

“Dalam program ini juga mendorong para pelaku IKM agar melakukan terobosan inovasi, dengan memperbaiki produk, pengembangan desain, serta mengikuti pendidikan dan pelatihan,” pungkasnya. (din)

Comments

Komentar