ADVERTORIAL

4 Nakes di Siantar Dituduh Nistakan Agama, Waketum DPP KNPI Minta Masyarakat Tidak Terprovokasi

MEDAN, akses.co – Waketum DPP KNPI, Sugiat Santoso, minta masyarakat tidak terprovokasi soal kasus yang menimpa 4 Tenaga Kesehatan (Nakes) pria di RSUD Siantar yang dituduh menista agama karena memandikan jenazah wanita suspek Covid-19.

Sugiat ketika dimintai keterangannya, Jum’at (26/2), mengatakan masalah tersebut baiknya tidak dibawa-bawa ke ranah SARA agar tidak menimbulkan prasangka antar umat beragama.

“Jika kemudian dikatakan salah bila 4 Nakes pria mandikan jenazah wanita pasien Covid-19, ya tentu itu karena faktor darurat, sehingga kita harus memakluminya karena bukan karena faktor kesengajaan,” kata Sugiat.

Katanya, Siantar-Simalungun itu termasuk zona merah penyebaran Covid, dan disana juga banyak korban jiwa akibat Covid. Jadi dengan situasi yang darurat begitu, ditambah kurangnya Nakes yang siap berjuang jadi relawan Covid, maka kita harus bisa memaklumi keadaan itu.

“Mereka pun pasti terpaksa, namun karena tingginya rasa kemanusiaan, ya terpaksa mereka melakukan hal itu. Tak mungkin pasien Covid yang sudah meninggal dibiarkan lama tertahan di rumah sakit, tanpa penanganan,” kata Sugiat.

Sugiat juga menilai bahwa dugaan pasal penistaan agama ini sengaja dibuat-buat oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Sebelumnya, pasien perempuan berusia 50 tahun tersebut dinyatakan meninggal pada 20 September 2020. Seperti layaknya pasien Covid-19 yang meninggal, jenazah harus diurus dengan protokol kesehatan. RSUD Djasamen Saragih hanya memiliki empat nakes bagian forensik, di mana mereka semua berjenis kelamin laki-laki.

Mulanya suami korban, F menolak ketika jenazah istrinya akan dimandikan keempat Nakes lelaki tersebut. Akhirnya pihak Nakes meminta F untuk mencari orang lain. Karena tidak berhasil mendapatkan orang tersebut, Fauzi menandatangani surat persetujuan untuk memberi izin jenazah istrinya dimandikan nakes.

Namun belakangan, suami dari pasien membuat laporan ke kepolisian atas tuduhan penistaan agama. Padahal sejak awal sang suami telah menyetujui proses tersebut. Tuduhan penistaan agama tersebut diduga muncul lantaran fatwa pengurus MUI Pematang Siantar. Saat ini, kasus yang menjerat empat petugas medis itu pun telah masuk ke dalam proses persidangan. (ggs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Terdeteksi

Mohon maaf Adblock terseksi di Browser ini, mohon dukung akses.co untuk tetap konsisten memberikan berita terupdate dengan mengizinkan iklan untuk selalu tampil, terima kasih.