ADVERTORIAL

Penetapan Tersangka Enam Laskar FPI Langkah Hukum yang Berani dan Tepat

JAKARTA, akses.co – Langkah Bareskrim Polri menetapkan enam orang Laskar FPI yang tewas di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek sebagai tersangka penyerangan terhadap anggota Polri sudah tepat sebagai bentuk pertanggung-jawaban hukum.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum (Waketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Sugiat Santoso SE. MSP, Jum’at (5/3).

“Apa yang dilakukan Bareskrim itu sejalan dengan fakta hasil investigasi dan rekomendasi Komnas HAM. Jangan digiring opini yang tidak baik seolah giliran anggota FPI jadi tersangka itu jadi salah, tapi di sisi lain seolah kita membenarkan laskar-laskar FPI itu diperbolehkan bebas menggunakan senjata api. Apalagi berdasarkan fakta dari investigasi Komnas HAM bahwa terjadi peristiwa saling kejar, saling seruduk, bahkan berujung bentrok antara laskar FPI dengan aparat kepolisian yang bertugas. Bahkan ditemukan senjata rakitan milik laskar FPI pada peristiwa tersebut,” kata Sugiat.

Menurutnya, bunyi rekomendasi Komnas HAM itu sudah sangat jelas, bahwa Komnas HAM merekomendasikan kasus ini harus dilanjutkan ke penegakan hukum dengan mekanisme pengadilan pidana guna mendapatkan kebenaran materil lebih lengkap dan menegakkan keadilan.

Lanjutnya, Komnas HAM juga merekomendasikan agar proses penegakan hukum dilakukan secara akuntabel, objektif, transparan sesuai dengan standar HAM.

“Terkait kasus ini, Bareskrim sudah melakukan penyidikan secara terbuka, objektif, dan transparan. Tak ada yang ditutup-tutupi, bahkan Komnas HAM pun sudah melakukan investigasi terkait kasus tersebut,” kata Sugiat.

Sugiat mengatakan, ada peristiwa saling bentrok antara aparat kepolisian dengan oknum warga bersenjata, tentu harus dituntaskan duduk perkaranya. Jangan sampai dibiarkan liar berkembang opini, apalagi sampai fitnah ke publik, bahwa aparat polisi melakukan tindakan yg tegas bahkan untuk menyelamatkan nyawanya dianggap salah.

” Berbahaya sekali jika dibiarkan sekelompok orang berani bertindak melawan bahkan sampai menggunakan senjata tajam tanpa proses hukum yang tuntas. Anarki hanya tinggal menunggu waktu jika hal itu sampai terjadi. Terkait proses hukum berikutnya, karena tersangkanya sudah meninggal, ya tinggal disesuaikan saja dengan aturan hukum yang ada. Tapi pada tahap ini, hasil gelar perkara Bareskrim Polri sudah tepat mendudukan peristiwa KM 50 tersebut ,” tutup Sugiat. (ggs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Terdeteksi

Mohon maaf Adblock terseksi di Browser ini, mohon dukung akses.co untuk tetap konsisten memberikan berita terupdate dengan mengizinkan iklan untuk selalu tampil, terima kasih.